12.01.2009

KB Sistem Kalender atau Pantang Berkala

Sejarah KB sistem kalender bermula saat Kyusaku Ogino dari Jepang dan Hermann Knaus dari Jerman memperkenalkan sistem ini pada tahun 1931. Sistem KB ini kemudian mengalami beberapa penyempurnaan dan terus digunakan hingga sekarang.


Dasar pemikiran ditemukannya KB sistem kalender atau pantang berkala cukup sederhana. Dalam setiap siklus haid seorang wanita, terdapat masa subur dan masa tidak subur. Masa subur berkaitan dengan pelepasan sel telur, yang biasa disebut ovulasi. Menurut Knaus, ovulasi terjadi 14 hari sebelum haid berikutnya. Sedangkan Ogino berpendapat, ovulasi bisa saja terjadi antara 12 dan 16 hari sebelum haid. Ogino juga menyatakan bahwa sel telur hanya dapat dibuahi dalam beberapa jam setelah ovulasi.


Dari temuan di atas, disimpulkan bahwa masa subur terjadi di sekitar pertengahan siklus haid. Karena masa subur ada di pertengahan, maka masa tidak subur mengapitnya. Artinya, dalam satu siklus haid, ada masa tidak subur sebelum ovulasi (pre ovulatory infertile) dan ada masa tidak subur sesudah ovulasi (post ovulatory infertile). Nah, pada kedua masa tidak subur inilah hubungan seksual tidak menyebabkan kehamilan.


Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana menentukan masa tidak subur sebelum ovulasi

Lama siklus menstruasi Masa tidak subur sebelum ovulasi
28 hari atau lebih Hari ke-1 sampai hari ke-7
27 hari Hari ke-1 sampai hari ke-6
26 hari Hari ke-1 sampai hari ke-5
25 hari Hari ke-1 sampai hari ke-4
24 hari Hari ke-1 sampai hari ke-3
23 hari Hari ke-1 sampai hari ke-2
22 hari Hari ke-1
21 hari Tidak Ada














Tabel di bawah ini memperlihatkan bagaimana menentukan masa tidak subur sesudah ovulasi.

Lama siklus menstruasi Masa tidak subur sebelum ovulasi
Kurang dari 28 hari Dari hari ke-19
29 hari Dari hari ke-20
30 hari Dari hari ke-21
31 hari Dari hari ke-22
32 hari Dari hari ke-23
33 hari Dari hari ke-24
34 hari Dari hari ke-25
35 hari Dari hari ke-26
36 hari Dari hari ke-27
37 hari atau lebih Dari hari ke-28

















Data tentang lama menstruasi terpanjang dan terpendek perlu terus menerus dicatat dan diperbaharui, sehingga perhitungan masa tidak subur sebelum dan sesudah ovulasi lebih akurat.

Penentuan Masa Tidak Subur


Cara menghitung masa tidak subur cukup mudah. Pertama-tama, selama 12 bulan, lama siklus haid dicatat. Siklus haid dihitung mulai dari hari pertama haid sampai dengan satu hari sebelum hari pertama haid berikutnya. Dari catatan tersebut akan terlihat apakah siklus haid teratur atau tidak. Bagi yang mempunyai siklus haid tak teratur, harap diperhatikan jumlah hari masa haid terpendek dan jumlah hari masa haid terpanjang.


Kemudian, setelah catatan siklus haid diperoleh, tinggal menghitung lama masa tidak subur. Menghitung masa tidak subur sebelum ovulasi adalah dengan cara mengurangkan masa haid terpendek dengan 21. Angka 21 berasal dari penjumlahan lama pematangan sel telur (16 hari) dan kemampuan hidup sel sperma dalam rahim (5 hari). Misalkan, masa haid terpendek adalah 28 hari, maka masa tidak subur sebelum ovulasi adalah hari pertama sampai hari ketujuh (28-21). Jika masa haid terpendek 25 hari, maka masa tidak subur adalah hari pertama sampai hari keempat (28-25).


Penghitungan masa tidak subur setelah ovulasi tidak jauh berbeda. Perbedaannya hanya pada masa haid yang digunakan dan angka pengurang. Masa tidak subur setelah ovulasi dihitung dengan cara mengurangkan masa haid terpanjang dikurangi 9. Angka 9 diperoleh dari pengurangan lama pematangan sel telur terpendek (11 hari) dengan kemampuan hidup sel telur (2 hari). Misal, masa haid terpanjang adalah 28 hari, maka masa tidak subur setelah ovulasi mulai hari ke 19 sampai haid berikutnya. Jika masa haid terpanjang 30 hari, maka masa tidak subur mulai hari ke 21 sampai haid berikutnya.


Lebih lengkap lagi di contohkan :

Seorang isteri mendapat haid mulai tanggal 9 Januari. Tanggal 9 Januari ini dihitung sebagai hari ke-1. Maka hari ke-12 jatuh pada tanggal 20 januari dan hari ke 16 jatuh pada tanggal 24 Januari. Jadi masa subur yaitu sejak tanggal 20 Januari hingga tanggal 24 Januari. Pada tanggal-tanggal tersebut suami isteri tidak boleh bersanggama. Jika ingin bersanggama harus memakai kondom atau sanggama terputus (senggama dimana tidak mengeluarkan sperma didalam).


Bila siklus haid tidak teratur :

Catat jumlah hari dalam satu siklus haid selama 6 bulan (6 siklus). Satu siklus haid dihitung mulai dari hari pertama haid saat ini hingga hari pertama haid berikutnya.
Jumlah hari terpendek dalam 6 kali siklus haid dikurangi 18. Hitungan ini menentukan hari pertama masa subur. Jumlah hari terpanjang selama 6 siklus haid dikurangi 11. Hitungan ini menentukan hari terakhir masa subur.


Rumusnya:
Hari pertama masa subur = Jumlah hari terpendek – 18
Hari terakhir masa subur = Jumlah hari terpanjang – 11
Contoh :
Seorang isteri mendapat haid dengan keadaan : siklus terpendek 26 hari dan siklus terpanjang 32 hari (mulai hari pertama haid sampai haid berikutnya)


Perhitungannya : 26-18 = 8 dan 32–11 = 21. jadi masa suburnya adalah mulai hari ke-8 sampai ke 21 dari hari pertama haid. Pada masa ini suami isteri tidak boleh bersanggama. Jila ingin bersanggama harus memakai kondom atau sanggama terputus.


Kontrasepsi dengan menggunakan sistem kalender dapat menghindari risiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi. Bagi keluarga yang kesulitan untuk mendapatkan alat kontrasepsi sangat cocok untuk menggunakan metode kontrasepsi ini selain tidak memerlukan biaya juga tidak perlu mencari tempat pelayanan kontrasepsi.


Menggunakan sistem kalender perlu kerjasama yang baik antara suami istri karena metode ini perlu kemauan dan disiplin pasangan dalam menjalankannya. Masa berpantang yang cukup lama akan mengakibatkan pasangan tidak bisa menanti sehingga melakukan hubungan pada waktu masih berpantang. Tapi bukan masalah bila saja pasangan membiasakan menggunakan kondom pada saat subur.


Efektifitas

Efektifitas KB sistim pantang berkala tergantung pada beberapa hal. Pertama, kelengkapan data siklus haid. Semakin lengkap datanya, semakin akurat perhitungan masa tidak suburnya. Kedua, kedisiplinan dan kerjasama antara suami istri untuk tidak melakukan hubungan seksual di masa subur. Hal ini mungkin sulit dilakukan oleh sebagian pasangan, karena masa 'berpantang' cukup lama. Selain itu, biasanya libido seorang wanita semakin meningkat pada saat masa subur. Salah satu jalan keluarnya adalah menggunakan kondom saat berhubungan seksual di masa subur.


Berikut ini adalah faktor-faktor yang membuat KBA sistem kalender menjadi tidak efektif.

  • Penentuan masa tidak subur didasarkan pada kemampuan hidup sel sperma dalam saluran reproduksi wanita adalah 3 hari.

  • Perdarahan yang kadang datang bersamaan dengan ovulasi dapat diinterpretasikan sebagai menstruasi. Akibatnya, perhitungan masa tidak subur sebelum ovulasi dan masa tidak subur setelah ovulasi menjadi tidak tepat.

  • Penentuan masa tidak subur tidak berdasarkan pada siklus menstruasi sendiri.

  • Kurangnya pemahaman tentang hubungan antara ovulasi dan perubahan jenis mukus yang menyertainya.

  • Adanya anggapan bahwa hari pertama siklus menstruasi dihitung dari berakhirnya perdarahan menstruasi sehingga semua perhitungan penentuan masa tidak subur otomatis menjadi salah.

Keterbatasan dari sistem kalender ini adalah suami istri tidak dapat melakukan hubungan seks setiap saat bila tidak menginginkan kehamilan. Padahal kebutuhan biologis tidak ada batasan waktu. Istri justru libidonya meningkat pada saat masa subur. Untuk itu KB sistem kalender ini harus dikombinasikan dengan pemakaian alat KB kondom. Pada saat masa subur suami istri tetap bisa melakukan hubungan suami istri tetapi dengan menggunakan kondom. (Farida)


Baca Juga Artikel Lain Dalam Katagori Yang Sama



Widget by Hoctro | Jack Book

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda,

LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE