Tampilkan postingan dengan label ke-islam-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ke-islam-an. Tampilkan semua postingan

10.25.2012

Apakah Ahmadiyah Itu

Hari demi hari kian bertambah juga perhatian umum mengenai gerakan Jemaat Ahmadiyah, sehingga ia ingin mengetahui dan bertanya-tanya, “Apakah Ahmadiyah itu?” Banyak diantara mereka yang mendapat penerangan langsung dari sumbernya, dan ada pula yang tidak, sehingga tidak jarang mereka mendapat penerangan yang tidak sebenarnya dan kadang-kadang menyesatkan.

Di dalam masa pembangunan ini, bangsa Indonesia yang jaya sedang merintis jalan menuju tujuan cita-cita yang luhur, yaitu membina suatu masyarakat adil dan makmur berdasar Pancasila dan UUD 45 yang menjamin kehidupan beragama. Maka untuk memelihara iklim yang sehat itu sangatlah perlu adanya pengertian timbal balik yang baik di antara semua golongan.

Atas dasar-dasar itulah kitab ini dipersembahkan oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia, dengan harapan agar supaya maksud dan tujuan dari Jemaat Ahmadiyah dapat dipahami sedalam-dalamnya oleh segenap lapisan masyarakat.

Di dalam kitab ini, pertanyaan “Apakah Ahmadiyah itu?” dijawab oleh Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Imam Jemaat Ahmadiyah, Khalifah Kedua dari Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.

Jawaban itu merupakan isi dari ceramah yang beliau siapkan atas permiantaan Jemaat Ahmadiyah di kota Silakot (Pakistan) untuk dibacakan pada suatu rapat tabligh akbar tahun 1948.

Edisi pertama dan kedua dari kitab ini terbit tahun 1954 yang diterjemahkan oleh Yth Bapak Abdul Wahid HA almarhum.

Sedangkan mulai edisi ketiga, bahasanya mengalami peremajaan setelah diperbaharui oleh Sdr R. Ahmad Anwar dengan bentuk dan gaya bahasa yang agak berlainan. Edisi kelima dicetak menurut ejaan yang disempurnakan.

Tanpa mengurangi penghargaan kami kepada jasa Bapak Abdul Wahid, dengan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Sdr R. Ahmad Anwar.

Semoga Allah swt memberkati usahanya dan mudah-mudahan memberikan buah yang dapat dipertik manfaatnya oleh masyarakat.

Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah
Jakarta, April 1982

Diatas adalah prakata dari buku Apakah Ahmadiyah Itu yang dapat Anda DOWNLOAD DISINI.

Bahtera Nuh

Nubuwatan Dalam Buku Barāhin-i-Ahmadiyya

Aku berkata berdasarkan penglihatan ruhani bahwa janji-janji Tuhan Yang Maha Kuasa itu benar, dan aku menyaksikan saat-saat yang akan datang demikian jelasnya, sehingga seakan-akan telah tiba layaknya. Aku pun mengetahui bahwa tujuan pemerintah yang sebenarnya ialah menyelamatkan orang-orang dari wabah pes dengan jalan apapun; dan jika di masa yang akan datang pemerintah menemukan suatu sarana yang lebih mujarab daripada suntikan, untuk menyelamatkan rakyat dari bahaya pes, maka pemerintah dengan senang hati akan menerimanya.

Dalam keadaan ini jelaslah, bahwa cara yang telah direstui Tuhan untuk ditempuh oleh ku tidak bertentangan dengan tujuan pemerintah. Dan dua puluh tahun 5 yang lalu tercantum di dalam kitabku Barāhīn Ahmadiyyah berupa nubuwatan (kabar gaib) mengenai wabah pes yang sangat dahsyat itu, dan juga tercantum mengenai janji limpahan berkat istimewa bagi Jemaat ini. Lihatlah Barāhīn Ahmadiyyah, halaman 518 dan 519.

Kemudian, kecuali itu ada nubuwatan yang tegas dari Tuhan, bahwa orang-orang mukhlis yang tinggal di dalam batas-batas dinding- rumahku, yang tidak bersikap takabur di hadapan Allah dan Utusan-Nya (Rasul-Nya), akan diselamatkan dari malapetaka pes (ta‟un) dan secara relatif maupun secara komfaratif karunia Tuhan yang istimewa akan tetap menyertai Jemaat ini, walaupun adakalanya – oleh karena kelemahan iman atau oleh karena cela dalam amal, atau oleh karena ajal (jangka-waktu) yang telah jadi suratan takdir, atau oleh karena suatu sebab lain yang diketahui Allah,peristiwa semacam itu terjadi juga di dalam Jemaat ini, namun peristiwa yang langka itu boleh dikatakan tidak ada.

Biasanya pada waktu mengadakan perbandingan, yang orang perhatikan ialah jumlah angka. Sebagaimana telah dibuktikan sendiri oleh pemerintah dalam pengalaman, bahwa jumlah kematian di antara orang-orang yang telah mendapat suntikan anti pes jika dibandingkan dengan jumlah kematian di antara orang-orang yang tidak mendapat suntikan adalah sangat sedikit.

Jadi, seperti halnya peristiwa kematian yang jarang terjadi tidak dapat mengurangi pentingnya arti suntikan, demikian pula mengenai Tanda ini jika di Qadian peristiwa pes terjadi – yang secara komparatif sangat kurang atau kadangkala ada juga seorang orang di dalam Jemaat ini meninggal akibat penyakit itu – maka nilai Tanda pasti tidak akan berkurang.

Nubuwatan itu ditulis sesuai dengan kata-kata yang diucapkan oleh Kalam suci Tuhan. Adalah tidak layak bagi seorang bijak kalau ia dari semula memperolok-olokan Kalam samawi. Ini adalah Kalam Ilahi (firman Tuhan) dan bukan ucapan seorang ahli nujum. Ini adalah cahaya yang ditangkap indera penglihatan yang nyata, dan bukan patgulipat permainan kegelapan. Ini adalah Kalam Ilahi (firman Tuhan) Yang telah membangkitkan wabah pes (ta‟un) dan Dia-lah Yang dapat melenyapkannya.

Pemerintah pasti akan menghargai nubuwatan ini kelak, apabila pemerintah akan menyaksikan betapa mengherankannya orang-orang ini tetap sehat wal-afiat dibandingkan dengan orang-orang yang mendapat suntikan. Dan aku berkata dengan sejujur-jujurnya, bahwa apabila tidak terjadi keadaan yang sesuai dengan nubuwatan yang telah dikumandangkan semenjak dua puluh atau dua puluh dua tahun yang lalu, maka aku bukanlah dari Tuhan......

Diatas tadi adalah bagian tulisan dari buku Bahtera Nuh; bagi Anda yang ingin membaca secara lengkap silahkan download DISINI.

7.04.2011

Menjadi Orang yang Berbudi Mulia (Bag.2)

Pelajaran Kesebelas: Ujub (Bangga diri)

Wahai saudaraku, jauhkanlah dirimu dari mengagungkan diri sendiri dan ujub terhadapnya, karena hal itu merupakan suatu perbuatan dosa yang bibitnya adalah kufur, tanahnya adalah nifak, airnya adalah kerusakan, cabang-cabangnya adalah kebodohan, dedaunannya adalah kesesatan dan buahnya adalah laknat dan kutukan, bahkan akan kekal di neraka jahanam. Apabila engkau ingin berbangga diri, maka pikirkanlah keadaan dan kondisimu, bagaimana asal mula terjadinya dirimu yang bermula dari setetes air mani yang menjijikkan, kemudian berakhir sebagai sebuah bangkai yang kotor. Dan di antara dua masa itu, engkau hanya sebagai pembawa berbagai najis yang bau dan berkeliling membawa kotoran yang bermacam-macam (di dalam perutmu). Renungkanlah keagungan yang Mahakuasa dan pikirkanlah betapa hina dan rendahnya dirimu, kefakiranmu dan kelemahanmu, dibandingkan dengan seekor lalat dan serangga. Betapa lemahnya dirimu untuk menolak berbagai bencana dan malapetaka yang akan menimpamu. Jadikanlah kelemahan dirimu sebagai bagimu, karena hal itu merupakan paling utamanya sifat dan akan mendatangkan manfaat di dunia dan di akhirat yang tidak terbatas. Allah Swt berfirman:
"Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk, lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama) dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki Nya..." (Qs. Faathir:8).
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Sesungguhnya tidak ada seorang hambapun yang bangga dan ujub dengan kebaikan-kebaikannya melainkan dia akan hancur dan binasa"[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Dan hati-hatilah engkau dari sifat ujub dan berbangga kepada dirimu sendiri, dan percaya terhadap hal-hal yang membuatmu kagum dari padanya serta cinta menampakkan diri, karena hal itu adalah merupakan kesempatan yang paling baik bagi setan dengan dirinya untuk menghapuskan segala perbuatan-perbuatan atau kebaikan-kebaikan orang yang berbuat baik"
Dan riwayat yang lainnya:
"Sesungguhnya ujub dan bangga diri itu mengakibatkan kepada ketergelinciran".
Hadist yang lainnya:
"Sesungguhnya buah dan hasil dari ujub dan bangga diri adalah kemurkaan dan kemarahan".
"Sesungguhnya keridhaanmu atas dirimu yaitu ujub adalah bagian dari rusaknya akalmu".
Hadist yang lainnya :
"Orang yang berbangga diri tidak mempunyai akal"
Dan hadist yang lain:
"Ujub itu merupakan perbuatan yang bodoh dan dungu"[2]
________________________________________
[1]. Biharul Anwar, Alamah Majlisi, J. 72, hal. 321.
[2]. Ghurarul Hikam, hal. 308 dan Biharul Anwar, J.77, hal 263.


Pelajaran Keduabelas: Takabbur (Angkuh) & Tawadhu (Rendah Hati)

Wahai saudaraku, hendaklah engkau berusaha sebisa mungkin untuk tidak takabbur dan congkak. Karena sesungguhnya orang yang angkuh, congkak dan takabbur itu akan digiring di padang pada hari kiamat dalam bentuk kecil-kecil seperti kecilnya semut. Dan ketika itu, mereka akan diinjak-injak oleh manusia, karena mereka tidak ada harganya dan tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah Swt.[1]
Allah Swt berfirman:
" Dan mereka seluruhnya bersujud kepada Adam kecuali iblis karena ia congkak dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang kafir". (Qs. Shaad:73-74)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
" Hendaklah engkau menjauhkan sifat takabbur dan congkak, karena sifat takabbur dan congkak itu berada pada kaki dan sesungguhnya bagian atasnya terdapat aba'ah (pakaian lapisan luar gamis seperti jubah)"[2]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Berhati-hatilah engkau jangan sampai mempunyai sifat takabbur dan congkak, karena sifat takabbur itu merupakan dosa yang paling besar dan merupakan puncak atau sumber segala aib dan ia merupakan hiasan bagi iblis"[3]
Dan pada hadits yang lain disebutkan:
" Paling buruknya bahaya akal adalah takabbur dan congkak"
Hadits lainnya berbunyi:
"Paling buruknya akhlak adalah takabbur dan congkak"
Hadits lainnya:
" Berhati-hatilah dan jauhkanlah dirimu dari sifat takabbur dan angkuh, karena ia merupakan puncaknya kezaliman dan maksiat kepada Allah Yang Maha Rahman"[4]
Diriwayatkan dari Imam Sajjad bin Husein As, beliau bersabda:
"Barang siapa yang mengucapkan Astaghfirullaha wa atuubu ilaih ( aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada Nya), maka ia bukan termasuk orang yang congkak dan takabbur dan juga tidak termasuk orang yang jabbar atau lalim"
Sesungguhnya orang yang congkak dan takabbur adalah orang yang senantiasa melakukan dosa, ia dikalahkan oleh hawa nafsunya dan ia lebih memilih dunianya daripada akhiratnya.[5]
Diriwayatkan dari Imam Ja'far bin Muhammad as Sadiq As, beliau bersabda:
"Takabbur ialah engkau merendahkan orang lain dan meremehkan kebenaran"[6]
Hadits yang lainnya:
"Takabbur ialah orang yang bodoh terhadap haq dan dia menikam atas ahlinya"[8]
Diriwayatkan dari Imam Sadiq As, beliau bersabda:
"Sesungguhnya di dalam neraka jahanam terdapat jurang dan lembah yang dikhususkan untuk orang-orang yang takabbur dan congkak. Lembah itu dinamakan saqar.Saking panasnya jahanam, lembah itu mengadu kepada Allah Swt dan meminta izin untuk sedikit bernafas kemudian dia bernafas maka jahanam membakarnya"[8]
Oleh karena itu saudaraku, berusahalah dengan sekuat tenagamu untuk menjadi orang yang rendah hati dan tawadhu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya rendah hati dan tawadhu itu tidak akan mengurangi kebesaran dan kehormatanmu sama sekali, bahkan akan menyampaikanmu kepada derajat dan kemuliaan yang tinggi. Adapun takabbur dan congkak adalah termasuk sifat-sifat yang dan rendah, dan akan menyebabkan orang-orang jatuh terjerumus. Dan orang-orang yang berusaha untuk besar dengan jalan menutupi kekurangan-kekurangan mereka dengan kecongkakan dan takabbur, sesungguhnya mereka itu malah akan membuka keburukan-keburukan dan menyingkap aib-aib mereka sendiri.
________________________________________
[1].Diriwayatkan oleh Syaikh Kulainy Ra. dalam Al-Kafi, J. 2, hal. 235, hadist ke 11.
[2]. Kanzul Ummal, hadist ke 7735.
[3]. Ghurarul Hikam , hal. 309, hadist ke 8124.
[4]. Ghurarul Hikam , hal. 309.
[5]. Biharul Anwar, J. 93, hal. 277.
[6]..Al Kafi, J. 2, hal. 234, hadist ke 8 dan 9.
[7]. Biharul Anwar , J. 73, hal. 217.
[8]. Al Kafi, J. 2, bab Al-Kibr, hal. 234, hadist ke 10.


Pelajaran Ketigabelas: Al-Qasawah (Keras Hati)

Keras hati ialah adanya rasa tidak peduli terhadap kesusahan orang lain. Seseorang yang hatinya mengalami kondisi tersebut tidak merasakan kepedihan dan penderitaan orang lain. Sumber keras hati ini adalah karena ia dikalahkan oleh kekuatan buas hawa nafsunya. Kebanyakan dari perbuatan-perbuatan yang tercela, seperti aniaya, menyakiti orang lain, tidak menjawab atau mengabulkan panggilan orang lain yang terzalimi, tidak membantu orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan bantuan, itu semua timbul dari sifat atau kondisi keras hati. Mengobati penyakit hati seperti ini sangat sulit. Dan orang yang tertimpa penyakit seperti ini, hendaklah ia senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat membuat hatinya lunak kembali, agar jiwanya mempunyai potesi untuk menerima curahan sifat belas kasih sayang dari sumber rahmat Allah Swt, agar nantinya sifat dan kondisi keras hatinya tersebut dapat menjadi sirna. Apabila seseorang yang tertimpa penyakit tersebut tidak berusaha mengobati dirinya, maka dia akan keluar dari daerah atau batasan manusia.
Allah Swt berfirman:
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu." (Qs. Al Maidah:13)
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
"Janganlah kalian memperbanyak ucapan selain berzikir kepada Allah Swt, karena banyak berbicara selain berzikir kepada Allah Swt, dapat mengakibatkan keras hati. Sesungguhnya paling jauhnya manusia dari Allah adalah orang yang hatinya keras"[1]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Tidak akan kering air mata, melainkan orang yang keras hati. Dan tidak akan keras hati melainkan orang yang banyak dosanya"[2]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda :
"Ada tiga perkara yang akan membuat keras hati, yaitu mendengarkan sesuatu yang sia-sia, memburu binatang dan menghampiri pintu kerajaan"[3]
Diriwayatkan dari Al Masih binti Maryam Isa As, beliau bersabda:
"Sesungguhnya binatang apabila tidak ditunggangi, tidak diuji dan tidak digunakan, maka nantinya ia akan menjadi sulit dan akan berubah sikapnya. Demikian pula hati manusia, apabila dia tidak dilembutkan dengan mengingat kematian dan tidak diikut sertakan dengan senantiasa beribadah, maka ia akan menjadi keras seperti batu"[4]
Penyair Sa'di Syirazi dalam sebuah syairnya berkata yang artinya:
Anak-anak Adam adalah anggota satu sama lainnya,
Mereka diciptakan dari mutiara yang satu
Apabila salah satu dari mereka tertimpa kesulitan suatu penyakit
Maka anggota-anggota yang lain akan merasakan penderitaan tersebut
Apabila engkau tidak mengambil faedah dari bencana orang lain
Maka ketahuilah, bahwa engkau tidak layak dinamakan sebagai anak Adam.
________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 1840 dan 18960.
[2].Biharul Anwar, J. 70, hal. 55.
[3]Biharul Anwar, J. 75, hal. 370.
[4]. Biharul Anwar, J. 14, hal. 309.


Pelajaran Keempatbelas: Asy-Syarrah (Keburukan)

Saudaraku yang mulia, hendaklah engkau menjauhkan diri dari menghamba perutmu. Sesungguhnya akibat buruk yang disebabkan oleh menghamba perut itu banyak sekali, seperti hina, bodoh, dungu dan lain sebagainya, bahkan termasuk bahaya paling besar yang menimpa manusia itu timbul dari mengikuti hawa nafsu perutnya. Seandainya tidak ada kezaliman dari arah perut yang ditimbulkan oleh hawa nafsu makan, maka tidak akan terjerumus seekor burungpun ke dalam perangkap, bahkan tidak ada seorang pemburu pun yang menyiapkan perangkapnya.
Ketahuilah sesungguhnya perut itu mengandung bahaya dan penyakit yang bermacam-macam dan sesungguhnya lapar itu mempunyai faedah dan manfaat yang banyak sekali. Karena sesungguhnya lapar dapat menerangi hati, menyinari dan menerangkan pikiran bahkan akan menyampaikan seseorang kepada kelezatan dan keindahan yang hakiki dalam bermunajat, berdzikir dan beribadah kepada Allah Swt. Lapar juga akan mengingatkan seseorang kepada hari kiamat dan menampakkan kerendahan nafsu amarahnya serta memperlancar dan mempermudah untuk taat dan beribadah, sehingga dengan lapar seseorang menjadi ringan dan sehat badannya serta akan tersingkir dari berbagai macam penyakit.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya bersabda:
"Janganlah kalian matikan hati kalian dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati itu seperti tanaman yang akan mati apabila terlalu banyak disiramai air".
Oleh karena itu, wahai orang-orang yang mengikuti hawa nafsu perutnya dengan banyak makan, hendaklah kalian mengobati jiwa dan diri kalian, dan jangan sampai terhalangi dari faedah-faedah dan manfaat lapar. Hendaklah mereka mengikuti tata cara para nabi, para ulama besar dan para urafa, karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang akan mencapai derajat yang tinggi tanpa memperhatikan rasa lapar. Hendaklah mereka memilih antara berteman dengan para malaikat dengan melalui rasa lapar daripada berteman dengan binatang-binatang yang selalu berteman dengan biji-bijian.


Pelajaran Kelimabelas: Hubb ad-Dunya (Cinta Dunia)

Saudaraku yang berbahagia, berhati-hatilah dari mencintai dunia yang hina. Karena sesungguhnya cinta dunia itu merupakan pokok dan sumber dari segala keburukan[1]. Dan pencari dunia akan hancur dan rusak serta sia-sia amal dan perbuatannya. Dunia merupakan bagian dari manfaat bagi seseorang setelah kematiannya. Dan haknya manfaat dunia itu akan terlihat pada seseorang setelah kematiannya. Ketahuilah, bahwa dunia yang diinginkan dan dicari oleh seseorang demi memperoleh pahala dan buah akhirat, hal itu tidaklah dinamakan dunia yang terhina. Sesungguhnya dunia tidak dianggap terhina apabila kadar dunia itu digunakan oleh seseorang untuk tujuan melangsungkan kehidupannya di dunia ini, seperti memenuhi kehidupan keluarganya, menjaga kehormatannya dan hal-hal lain yang ia perlukan. Bahkan hal semacam itu tidak dianggap dunia, tetapi merupakan amal-amal yang shaleh.
Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda dalam salah satu hadistnya: "Barang siapa mencari rizki di dalam dunia ini untuk menjaga kehormatannya dari orang lain dan untuk menghidupi keluarganya dan membantu tetangganya, maka ia akan berjumpa dengan Allah Swt sedangkan wajahnya bagaikan bulan di malam purnama"[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya dunia itu diumpamakan seperti air laut, setiap kali orang yang merasa haus minum air tersebut, ia akan bertambah haus sehingga ia hsmpir mati karenanya.[3]
Nabi Isa al-Masih As pernah bersabda:
"Sesungguhnya pencari dunia adalah seperti orang yang minum air lautan, setiap kali ia meminumnya, akan bertambah rasa hausnya sehingga air itu hampir membunuhnya sendiri"[4]
Dunia laksana seekor ular yang bagian luarnya lembut dan terukir indah, tetapi bagian dalamnya penuh dengan racun yang mematikan dan mengandung bahaya yang besar.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As pernah menulis sepucuk surat kepada Salman al Farisi, dalam surat itu beliau mengatakan:
"Perumpamaan dunia ini bagaikan seekor ular yang ketika disentuh ia lembut, tetapi racunnya akan membunuh. Maka berpalinglah dari segala sesuatu yang menakjubkanmu, karena sedikitnya sesuatu yang menemanimu. Dan enyahkanlah segala kesusahannya, karena engkau yakin akan meninggalkannya".[5]
Allah Swt pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa As yang isinya: "Wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya setiap fitnah itu bibit dan sumbernya adalah cinta dunia".[6]
Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda:
"Dosa yang paling besar adalah cinta dunia".[7]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Cinta dunia merupakan sumber segala maksiat dan awal segala kedustaan".[8]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Cinta dunia merupakan sumber segala fitnah dan dasar segala cobaan".
Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan:
"Sumber segala bencana adalah gandrung dan cinta dunia. Dan sesungguhnya engkau tidak akan menjumpai Allah Swt dengan suatu amal perbuatan yang lebih berbahaya atasmu selain dari pada cinta dunia".
Riwayat lainnya mengatakan:
"Sesungguhnya dunia itu merusak agama dan mencabut keyakinan".[9]
________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 238, hadist ke 1.
[2]. Diriwayatkan oleh Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 211.
[3]. Kulainy dalam kitab Al-Kafi, J. 2, hal. 810, hadist ke 24.
[4]. Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 215.
[5]. Diriwayatkan oleh Sayyid 'Abdullah Shubbar dalam kitab Akhlak, hal. 214.
[6]. Bihar al-Anwar , J.13, hal. 351.
[7]. Kanz al-'Ummal, hadist ke 6074.
[8]. Tanbih al-Khawaatir, hal. 362.
[9]. Ghurar al-Hikam, hal. 139.


Pelajaran Keenambelas: Al-Faqr (Fakir)

Saudaraku yang fakir, janganlah engkau bersedih dengan kefakiranmu, karena fakir merupakan hiasan bagi seorang mukmin dan hal itu lebih baik daripada pelana yang dijadikan sebagai hiasan kuda. dan setiap manusia pasti merindukan surga, sementara surga itu rindu kepada orang-orang fakir.
Al-Alamah al Majlisi meriwayatkan sebuah hadist dalam kitabnya Al Bihar jilid 72 hal 48 hadist ke 58. Di dalam hadis tersebut Rasulullah Saw bersabda:
"Orang-orang fakir merupakan raja-raja ahli surga, dan seluruh manusia rindu kepada surga. Sedangkan surga rindu kepada orang-orang fakir".
Cukuplah bagi seorang fakir untuk menghibur hatinya dengan ucapan pemimpin umat manusia pemberi kabar gembira Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Kefakiran adalah kebanggaanku".[1]
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: "Kefakiran adalah kebanggaanku dan dengan kefakiran itu aku merasa bangga".[2]
Dan dalam hadist yang lainnya lagi beliau bersabda:
"Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kondisi miskin, matikanlah aku dalam kondisi miskin dan giringlah aku di padang mahsyar bersama kelompok orang-orang yang miskin".[3]
Di dalam hadist yang lain Rasulullah Saw bersabda:
"Barang siapa berusaha untuk membantu keluarganya dari sesuatu yang halal, maka dia bagaikan seorang mujahid (pejuang ) di jalan Allah Swt. Dan barang siapa mencari dunia yang halal untuk tujuan iffah (menjaga diri dan kehormatan) maka dia akan sederajat dengan orang-orang yang mati syahid".[4]
Amirul Mukminin Al Imam Ali bin Abi Thalib As bersabda:
"Raja-raja dunia dan akhirat adalah orang-orang fakir yang rela".[5]
Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw bersabda:
"Tidakkah kalian ingin aku kabarkan tentang ahli-ahli surga?". Para sahabat menjawab : "Tentu ya Rasulullah", lalu beliau bersabda: "Raja-raja ahli surga adalah setiap orang yang lemah dan mustadh'af yang wajahnya berdebu dan rambutnya kusut dan hanya memakan dua butir kurma. Orang-orang tidak perduli kepadanya, tetapi apabila dia bersumpah atas Asma Allah, pasti Allah akan mengabulkannya".[6]
________________________________________
[1]Jam' al-Akhbaar oleh Sabzewary dari A'lamul-qurnus-saabi', hal. 302, pasal ke 67.
[2]Mishkat al-Anwar, Tabarsy, hal. 133.
[3]. Bihar al-Anwar, J. 69, bab ke 94, pasal Al Fakir wal Fuqara.
[4]. Al-Mahjat al-Baidha, J. 3, Akhlak Shubbar, hal. 211 dan Jami' as-Sa'aadat, J. 2, hal. 19, cetakan Najaf.
[5]. Ghurar al-Hikam, hal. 366, hadist ke 8243.
[6]. Jam'i as-Sa'adaat, J. 2, hal. 83, cetakan Najaf.


Pelajaran Ketujuhbelas: Memohon

Saudaraku yang mulia, angkatlah kedua tanganmu sebisa mungkin untuk memohon kepada Tuhanmu. Mintalah kepada Nya segala hajat dan kebutuhanmu dan janganlah engkau tumpahkan wajahmu di hadapan orang-orang yang terkutuk hanya demi sesuap nasi.
Di dalam sebuah riwayat Rasulullah Saw bersabda bahwa orang kaya itu bukanlah orang yang banyak hartanya, tetapi orang kaya adalah orang yang jiwanya terhormat. Dalam tempat yang lain kepada seorang Badui yang memohon nasihat kepadanya, beliau bersabda: "Apabila engkau melakukan shalat maka lakukanlah seperti orang yang melakukan shalat terakhir kalinya, janganlah engkau berkata-kata dengan ucapan yang menyebabkan keesokan harinya engkau akan menyesal. Dan himpunlah rasa putus asa dari apa-apa yang ada di tangan manusia".

Imam Shadiq As bersabda:
"Sesungguhnya syia'ah-syi'ah kami adalah orang-orang yang tidak meminta sesuatu dari manusia dan orang lain, sekalipun ia mati kelaparan".
Beliau bersabda dalam hadits yang lain:
"Ada tiga perkara yang merupakan kebanggaan seorang mukmin dan akan menjadi hiasan baginya di dunia dan akhirat, yaitu shalat pada akhir malam dan merasa putus asa dalam mengharap apa yang berada di tangan orang lain dan berwilayah kepada Imam dari keluarga Muhammad Saw".[1]
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa pakaian seorang raja sekalipun ia mulia, tetapi sesungguhnya ia lebih rendah daripada pakaian seorang fakir yang sabar dan rela dengan kefakirannya tersebut. Sesungguhnya makanan orang yang berleha-leha sekalipun nampaknya lezat, tetapi sesungguhnya roti kering yang dimakan oleh orang-orang fakir itu lebih lezat.
Wahai saudaraku, janganlah engkau merasa gelisah karena sedikitnya uangmu, janganlah engkau menjual agamamu untuk duniamu, karena sesungguhnya pada hari pembalasan nanti kemuliaan itu terdapat pada agama dan bukan terdapat pada uang. Derajatmu akan naik dengan agamamu dan bukan dengan uangmu.
Hukama (orang-orang bijak) berkata "Seandainya air kehidupan itu dijual dan diganti dengan air wajah (kehormatan), maka tidak akan ada seorang alimpun yang bersedia untuk membelinya. Sesungguhnya mati karena sakit itu lebih baik daripada hidup dengan segala kehinaan".
Oleh karena itu wahai saudaraku bertawakallah sepenuhnya kepada Allah Swt dan hindarilah rasa tamak dengan melihat apa yang ada pada orang lain dan janganlah engkau perduli dengan yang ada pada mereka. Imam Shadiq As bersabda:
"Apabila kalian menghendaki agar Tuhan kalian tidak mengabulkan suatu permintaanpun melainkan ia pasti memberikannya, maka hendaklah kalian berputus asa dari seluruh manusia dan tidak lagi menaruh harapan selain dari Allah Swt. Apabila Allah Swt mengetahui hal itu dan apa yang ada di dalam lubuk hati kalian maka apa yang dia minta pasti Allah akan memberikannya".[2]
Allah Swt berfirman: "…. orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka itu orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak…". (Qs. Al-Baqarah:273).
Rasulullah Saw bersabda kepada Abu Dzar: "Wahai Abu Dzar, hendaklah engkau jangan meminta-meminta, karena hal itu merupakan kehinaan yang berwujud dan merupakan kefakiran yang cepat dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang di hari kiamat".[3]
Dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:
"Wahai Ali seandainya kedua tanganku ini di masukkan ke dalam mulut at tannin sampai ke sikuku hal itu lebih aku sukai daripada aku harus meminta dari orang lain yang tidak ada di sana".[4]
Amirul Mukminin Ali As pernah bersabda: "Sesungguhnya meminta-minta itu akan melemahkan lisan orang yang berbicara dan akan memecahkan hati yang berani dan membuat orang yang merdeka dan mulia itu bersikap bagaikan sikap seorang budak yang hina dan menghilangkan kehormatan muka dan menghapuskan rizki".[5]
Dalam hadits yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya taqarrub kepada Allah Swt itu dilakukan dengan memohon kepada Nya dan dengan cara meninggalkan apa yang ada pada manusia".
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:
"Sesungguhnya Syi'ahku adalah orang yang tidak menjilat-jilat bagaikan seekor anjing dan orang yang tidak tamak sebagaimana tamaknya burung elang dan tidak meminta-minta kepada orang lain meskipun ia mati kelaparan".
Pada hadist yang lain beliau bersabda bahwa meminta-minta kepada orang lain adalah kunci dari kefakiran. Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak ada seorang hambapun yang membuka pintu pada dirinya untuk meminta-minta kepada orang lain melainkan Allah akan membukakan atasnya tujuh puluh pintu kefakiran".
Imam Shadiq As bersabda:
"Barang siapa yang memohon kebutuhannya kepada orang lain, maka akan tercabut kehormatan dan rasa malunya. Dan dengan berputus asa atau tidak mengharapkan apa yang ada pada manusia adalah merupakan kemuliaan bagi seorang mukmin di dalam agamanya, sedangkan tamak adalah merupakan fakir yang hadir".[6]
________________________________________
[1]. Jam'i as-Sa'adaat, J.2, hal. 107.
[2]. Diriwayatkan oleh Kulainy dalam Al-Kafi, J.2, hal. 119, hadist ke 2.
[3].Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[4].Makarim al-Akhlak, hal. 433, cetakan Beirut dan Bihar al-Anwar, J. 77, hal. 59 dan 60.
[5].Jam'i al-Akhbar, hal. 379.
[6].Miskhat al-Anwar, hal. 185.


Pelajaran Kedelapanbelas: Al-Hirsh (Rakus)

Saudaraku yang mulia, hindari dan buanglah jauh-jauh sifat rakus karena sifat tersebut merupakan padang pasir yang luas tidak bertepi, ke arah mana saja engkau menghadapkan wajahmu maka engkau tidak akan dapat melihat dan menjangkau batasnya. Rakus merupakan lautan yang tiada bertepi dan tidak dapat dijangkau kedalamannya sekalipun kamu menyelaminya. Sungguh betapa rugi dan celakanya orang yang ditimpa penyakit rakus ini, karena ia akan mencelakakan dan menyesatkan dan sulit untuk diselamatkan.
Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya orang yang rakus itu mahrum (terhalangi,) dan dengan adanya penghalang ini dia akan menjadi terhina dalam hal apa saja. Bagaimana ia tidak akan menjadi mahrum dan terhalangi sedangkan ia kabur dari ikatan janji Allah Swt?".[1]
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda : "Sesungguhnya rakus itu lebih panas dari api neraka". Dalam riwayat yang lain beliau bersabda: "Sesungguhnya sifat rakus itu dapat menghalangi kadar dan kemuliaan seseorang dan sifat ini tidak akan menambahkan rizki kepadanya".
Dalam riwayat yang lain beliau bersabda bahwa orang yang rakus itu adalah fakir meskipun ia memiliki dunia dan isinya. Diriwayatkan dari Imam Baqir As, beliau bersabda bahwa perumpamaan orang yang rakus terhadap dunia adalah seperti ulat sutra, dimana setiap kali bertambah lipatan sutra pada dirinya maka akan semakin jauh pulalah dirinya untuk dapat keluar dari lipatan tersebut.[2]
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya qanaah (merasa cukup) adalah merupakan suatu sifat yang penuh dengan keutamaan dan fadhilah dan merupakan sifat yang membuat ketenangan seseorang di dunia dan akhirat.
Al Alamah An Niraqi dalam kitabnya Jami'u Sa'adat jilid 2 hal 101 berkata bahwa qanaah dan merasa cukup itu merupakan lawan dari rakus. Qanaah adalah suatu sifat terpuji yang jika melekat pada diri seseorang dapat menjadikannya merasa cukup dengan sekedar kebutuhannya dari harta tanpa berusaha untuk susah payah mencari tambahannya. Qanaah merupakan sifat yang mulia dan utama, dimana sifat-sifat mulia yang lain bergantung pada sifat tersebut. Dan ketiadaan sifat qanaah tersebut akan menjadikan dan menyebabkan seseorang menjadi terjerumus kepada akhlak dan budi pekerti yang buruk. Orang-orang yang qanaah, dengan hanya satu hidangan makanan akan bisa mencukupi sepuluh orang. Tetapi sebaliknya, sifat rakus itu tak ubahnya bagaikan dua anjing yang akan berkelahi hanya untuk memperebutkan sebuah bangkai. Demikianlah orang yang rakus, dia akan tetap lapar meskipun dunia seisinya telah menjadi milikinya. Sementara orang yang merasa cukup dan qanaah akan merasa kenyang sekalipun hanya dengan sebuah roti kering.
________________________________________
[1] Biharul Anwar, J. 73, hal. 165.
[2] Kafi, J.2, hal. 134.


Pelajaran Kesembilanbelas: Tamak (Serakah)

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa tamak merupakan sebuah sifat yang sama dengan sifat rakus. Lawan dari sifat ini adalah tidak butuh kepda orang lain.
Telah diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: "Tamak akan menghilangkan hikmah dari kalbu-kalbu para ulama".[1]
Dan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As, beliau bersabda:
"Mulialah orang yang qanaah, yaitu orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan hinalah orang yang tamak".[2]
Dari Ali bin Husain as Sajjad As bersabda:"Aku melihat kebaikan yang awalnya terkumpul dan menjadi terputus karena ketamakan manusia".[3]
________________________________________
[1]. Kanzul Ummal, hadist ke 7576.
[2]. Kalimat pertama, dalam Syarah Ghurarul Hikam, J. 4, hal. 474, dan kalimat kedua dengan sedikit perbedaan dalam J. 5, hal 451.
[3]. Biharul Anwar, J. 70, hal 171.


Pelajaran Keduapuluh: Bakhil (Kikir)

Saudaraku yang mulia, hindarkan dan jauhkanlah dirimu dari sifat bakhil dan pelit, karena sesungguhnya orang yang bakhil dan pelit itu terhina, rendah dan tidak berharga. Cukuplah dalam keburukan sifat ini bahwa tidak akan ada seorang pun yang menyukainya di dunia ini. Dan masyarakat, bahkan anak-anaknya sendiri akan memusuhinya dan keluarga serta familinya senantiasa akan menunggu kematiannya, supaya dalam duka citanya mereka bisa mengenakan pakaian yang paling lusuh akan tetapi mereka akan membawa pakaian yang paling baik.
Sebagian ulama mengatakan: "Akar bakhil itu dari tanah dan dia akan tumbuh ketika hendak menuju ke tanah".
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa orang bakhil tidak akan pernah diingat setelah kematiannya, karena telah jelas bahwa barang siapa tidak memakan rotinya ketika hidupnya, maka tidak akan ada yang menyebutkan namanya ketika matinya.
"Dan barang siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri". (Qs.Muhammad:38).

4.09.2011

Menjadi Orang yang Berbudi Mulia (Bag. 1)

Pelajaran Pertama: Khauf dan Khasyyah

Wahai sudaraku yang mulia, takutlah kepada Allah 'azza wa jalla dan ingatlah akan keagungan dan kebesaran-Nya, hendaklah engkau senantiasa memikirkan tentang hal ihwal hari perhitungan amal dan ingatlah berbagai macam azab Allah Swt. Gambarkanlah tentang kematian dan kesulitan yang akan terjadi di alam barzakh dan pembalasan pada hari kiamat, baca dan renungkanlah ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang berhubungan dengan surga, neraka dan hal ihwal orang-orang yang takwa dan orang-orang yang saleh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya setiap kali makrifah dan pengetahuan seorang hamba tentang kebesaran Khaliq Sang Pencipta yang Maha Agung itu bertambah, maka ia akan lebih banyak mengetahui aib dan cacat dalam dirinya dan akan bertambah pula rasa takutnya kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt menisbatkan khauf dan khasyyah kepada-Nya dengan takut dan khasyyahnya para ulama. Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya di antara para hamba-hamba- Nya hanya para ulamalah yang takut kepada Allah Swt "(Qs. al-Faathir:28)
Rasulullah Saw bersabda:
" Sesungguhnya aku adalah hamba yang paling takut kepada Allah Swt"[1]
Seorang perawi yang bernama Sa'labi meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad dari Abi Ishaq dari Abi Huzaifah bahwa seorang sahabat nabi berkata kepada beliau: "Ya Rasulallah, betapa cepatnya engkau beruban",
Rasul Saw menjawab:
"Sesungguhnya Hud dan saudari-saudarinya telah membuatku beruban"[2]
Di dalam hadis yang lain Rasulullah Sawbersabda:
"Telah membuatku beruban surat Hud, Waqiah, Mursalat, dan 'Amma Yatasaalun"[3]
Walaupun engkau belum pernah berjumpa dan melihat para nabi, tetapi pasti engkau telah mendengar kisah-kisah tentang takutnya para nabi dan para muqarrabbin (orang-orang yang dekat dengan Allah Swt), ghaibubah-nya Amirul mu'minin 'Ali bin Abi Talib As dan tadarruk-nya Sayyidus Sajidin di dalam munajat-munajatnya.
________________________________________
[1]Jam'us-sa'aadat, J. 1, Pasal Khauful-mahmud, hal 218.
[2] Tafsir Nur Tsaqalain, J. 2, hal. 334, dalam tafsir surah Huud.
[3] l Khisal, J.1, hal. 119, Bab keempat.

Pelajaran Kedua: Harapan

Wahai saudaraku yang mulia, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Swt. Jadilah orang yang mempunyai harapan dan optimis. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dunia ini merupakan ladang akhirat sedangkan hati setiap anak adam merupakan tanahnya. Iman sebagai bibitnya, sementara taat sebagai air yang mengaliri bumi hati dan membersihkannya dari berbagai kotoran maksiat. Dan akhlak yang tercela merupakan duri-duri dan kayu, sedang hari kiamat adalah waktu untuk menuai tanaman tersebut. Ketahuilah barang siapa yang bercocok tanam di dunia ini dengan cara seperti itu kemudian dia memiliki rasa optimis, maka harapannya akan terpenuhi. Jika tidak, maka apa yang telah ia lakukan itu tiada lain kecuali ghurur, congkak dan kebodohannya.

Pelajaran Ketiga: Ghirah dan Himyah (Cemburu dan Memelihara)

Saudaraku yang budiman, janganlah engkau teledor dan lalai dalam menjaga dan memelihara agamamu, kehormatanmu, anak-anakmu dan harta bendamu. Hendaklah engkau senantiasa menolak berbagai bid'ah dari para pembuat bid'ah dan berbagai keraguan para pengingkar agama yang nyata.
Serius dan bersungguh-sunguhlah dalam menyebarkan syari'at yang mulia. Janganlah engkau melalaikan amar maruf dan nahi munkar. Janganlah engkau angkat penutup haibahmu dari wanita-wanita keluargamu dan kerabatmu. Berusahalah semampu mungkin agar para wanita keluargamu tidak memandang lelaki. Cegahlah mereka dari segala sesuatu yang kemungkinan dapat merusak iman dan akhlak mereka, seperti mendengarkan musik dan lagu-lagu, keluar dari rumah dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak dikenal serta mendengarkan kisah-kisah dan cerita-cerita yang membangkitkan syahwat. Berlakulah lemah lembut kepada mereka dan seriuslah dalam meneliti dan memperhatikan hal ihwal mereka.

Pelajaran Keempat: Tercelanya Tergesa-gesa

Anakku yang baik, janganlah engkau tergesa-gesa dan terburu-buru dalam suatu urusan. Hendaklah engkau memikirkan segala perbuatan dan ucapan-ucapanmu terlebih dahulu. Ketahuilah bahwa segala urusan yang dilakukan oleh seseorang tanpa berfikir terlebih dahulu akan mengakibatkan kerugian dan menyebabkan pelakunya menyesal. Setiap ketergesa-gesaan dan gampangnya mengeluarkan pendapat dan pandangan, dapat menjadikannya hina di hadapan orang-orang dan tidak akan mendapat tempat nantinya di hati mereka.
Pujangga Sa'di berkata: "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu dapat dikerjakan dengan baik dengan kesabaran, pertimbangan dan berfikir. Setiap orang yang tergesa gesa pasti akan jatuh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri di padang pasir, bagaimana orang yang berjalan perlahan-lahan, lambat dan berhati-hati akan tiba terlebih dahulu. Sementara kuda yang berlari kencang jatuh tersungkur. Lihatlah bagaimana unta dapat menyelesaikan perjalanannya yang jauh dengan hati-hati dan perlahan-lahan".

Pelajaran Kelima: Ghadhab (Marah)

Saudaraku yang budiman, berusahalah sebisa mungkin untuk tidak marah dan murka. Hiasilah jiwa dan dirimu dengan hiasan kesabaran dan ketabahan. Ketahuilah sesungguhnya marah dan murka itu merupakan kunci segala keburukan dan bisa jadi bahwa puncak kemarahan itu akan mengakibatkan kepada kematian secara tiba-tiba.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya murka dan marah itu dapat merusak iman sebagaimana cuka dapat merusak madu"[1]
Cukuplah terhinanya murka dan marah sebagai pelajaran bagimu, yaitu engkau berfikir dan merenung tentang perbuatan seseorang di saat ia murka dan marah.
________________________________________
[1] Al Kafi, J. 2, hal. 229, Bab Al Ghadhab.

Pelajaran Keenam: Al-Hilmu (Lembut)

Hilm merupakan sikap berhati-hati dan menahan murka sehingga tidak dengan mudah membangkitkan kekuatan marah. Dan sifat hilmini tidak akan mengakibatkan kegoncangan jiwa dan stres sepanjang masa.
Dan kazhmul ghaizh (menahan diri dari murka) adalah merupakan suatu perbuatan menyembunyikan dan mengekang rasa marah. Kedua sifat ini yaitu hilm dan kazhmul ghaizh adalah merupakan akhlak yang sangat baik dan terpuji.
Cukuplah hilm ini merupakan sifat terpuji karena ia banyak terdapat dan disinggung di dalam riwayat-riwayat yang dibarengi dengan al-'ilm (ilmu pengetahuan).
Dikatakan bahwa hilm merupakan garamnya akhlak. Sebagaimana setiap makanan tidak bisa dirasakan nikmatnya kecuali dengan garam, maka begitu pula dengan hilm. Akhlak dan budi pekerti tidak dianggap indah kecuali dengan adanya sifat hilm. Maka sifat hilm bagi setiap akhlak seperti garam bagi setiap makanan.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As. berkata:
"Sesungguhnya hilm itu merupakan cahaya yang esensinya adalah akal"[1]
Dalam hadist yang lain dikatakan bahwa:
"Sesungguhnya hilm itu merupakan kesempurnaan akal"[2]
Dikatakan pula dalam riwayat yang lain:
"Hilm itu merupakan tatanan urusan seorang mukmin"[3]
Riwayat yang lainnya mengatakan:
" Hilm adalah kekasih dan teman dekat seorang mukmin dan merupakan wazirnya"[4]
Riwayat yang lain lagi mengatakan:
" Keindahan seorang laik-laki terletak pada sifat hilmnya"[5]
Riwayat lainnya lagi mengatakan:
" Barang siapa membuatmu murka dengan melontarkan ucapan buruk kepadamu maka balaslah dengan kebaikan sifat hilm"[6]
Riwayat yang lainnya lagi mengatakan:
" Apabila engkau tidak memiliki sifat hilm maka berusahalah untuk menjadi orang yang halim "[7]
________________________________________
[1]Ghurarul Hikam, hal. 286, hadist ke 6412.
[2]Ibid, hadist ke 6411.
[3]Ibid.
[4]Ibid.
[5] Ibid, hal. 285, hadist ke 6392.
[6] Ibid, hadist ke 6400.
[7]Usul Kafi, J. 2, hal. 92.

Pelajaran Ketujuh: Afwu (Memaafkan)

Maaf adalah merupakan sifat Ilahy, Allah Swt menyebutkan sifat maaf tersebut ketika memberikan pujian dan sanjungan.
Rasulullah Saw. bersabda:
" Sesungguhnya maaf atau memberikan maaf itu lebih berhak untuk dilakukan "
"Sesungguhnya Allah mencintai orang yang memberikan maaf"
" Saling memafkanlah maka kedengkian di antara kalian akan sirna "
" Hendaklah engkau pemberi maaf karena memaafkan itu tidak menambahkan seorang hamba melainkan kemuliaan "[1]
Diriwayatkan dari 'Ali bin al-Husein as-Sajjad As., ia bersabda:
" Engkau ya Allah yang telah menamakan dirimu Pemaaf maka maafkanlah segala kesalahanku "[2]
Ketahuilah wahai saudarakau bahwa sesungguhnya dosa, apabila dosa itu besar maka sesungguhnya keutamaan maaf itu akan menjadi besar pula.
Di dalam sebuah syair di katakan:
Sesungguhnya berlaku buruk pada orang yang berbuat buruk adalah sebuah hal yang mudah. Apabila engkau betul-betul seorang lelaki maka berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk padamu.
________________________________________
[1] Usul Kafi, J. 2, hal. 88, hadist ke 5, bab 'Afuu.
[2] Lihat Sahifah Sajjadiyah, do'a ke 16.

Pelajaran Kedelapan: Ar-Rifqu(Lemah lembut)

Saudaraku yang mulia, jauhkanlah dirimu sebisa mungkin dari sikap keras dalam perkataan dan perbuatan, karena hal itu merupakan sifat yang buruk yang dijauhkan oleh setiap orang. Keras itu termasuk sifat yang tercela dan apabila engkau menyandangnya, maka orang-orang akan lari darimu dan akan merusak segala urusan hidupmu. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah Swt memberikan petunjuk Nya kepada Rasul Nya Saw dengan firmannya:
"Apabila engkau berlaku dan bersifat keras hati maka mereka akan lari meninggalkanmu"[1]
Dan kebalikannya adalah sifat rifq yaitu lemah lembut dalam ucapan dan perbuatan dan hal itu sangat terpuji di dalam berbagai keadaan dan kondisi.
Rasulullah Saw bersabda:
"Sesungguhnya lemah lembut itu tidak diletakkan di atas sesuatu melainkan ia lebih berat "[2]
Dalam hadist lain dikatakan:
"Lemah lembut itu separoh dari kehidupan"[3]
Dalam hadist yang lain lagi di katakan :
"Barang siapa yang diberikan bagian dari sifat lemah lembut maka dia akan diberikan bagian dari kehidupan dunia dan akherat"[4]
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib As. :
" Hendaklah engkau bersifat lemah lembut karena hal itu merupakan kunci kebenaran dan sifat mulia bagi orang-orang yang mempunyai akal yang sehat ".[5]
_______________________________________
[1]Surah Ali Imran, ayat ke 159.
[2] Mishkatun-nuur lil- Tabarisy, hal. 180.
[3]Usul Kafi, J. 2, hadist ke 11, bab Ar Rifq.
[4]Usul Kafi, J.2, hal. 97.
[5]Lihat Ghurarul Hikam , hal. 24, hadist ke 4967, bab Fadzilatur-rifq.

Pelajaran Kesembilan: Akhlak Buruk

Saudaraku yang mulia, hindarkanlah dirimu dari akhlak yang menyimpang, karena akhlak yang seperti ini akan menjauhkan seseorang dari Khalik dan makhluk Nya, dan dia akan senantiasa mendapatkan azab. Hal ini dikarenakan orang yang berakhlak buruk akan senantiasa tersiksa di tangan musuhnya dimana setiap kali dia pergi ke suatu tempat dia tidak akan pernah terlepas dari cengkeraman balasan.
Dan ketahuilah wahai saudaraku, bahwa akhlak dan budi pekerti yang baik merupakan lebih utama dari sifat-sifat para wali.
Ayat berikut ini merupakan saksi dari apa yang telah tertera di atas dimana Allah Swt berfirman:
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Qs. al-Qalam:4).

Pelajaran Kesepuluh: Permusuhan dan Caci Maki

Saudaraku yang mulia, jauhilah kedengkian dan permusuhan karena hal itu hanya akan mengakibatkan penyesalan dan sakit hati di dunia dan juga di akherat. Bahkan efeknya adalah saling melaknat, berkelahi dan menikam. Tidaklah diragukan lagi tentang keburukan sifat-sifat tersebut terutama rasa dengki. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mengharamkan surga bagi setiap pencaci maki dan orang yang mempunyai sedikit rasa malu, yaitu orang yang tidak perduli dengan apa yang ia ucapkan dan dengan apa yang dikatakan orang lain kepadanya. Sesungguhnya apabila engkau melihat dan meneliti hal tersebu,t maka engkau tidak akan mendapatinya melainkan pada seorang anak hasil zina atau teman setan". [1].
Dalam hadist yang lain diriwayatkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang berbuat keji dan suka mencaci maki". [2].
Dan hadist lainnya
"Sesungguhnya surga itu haram untuk dimasuki oleh orang yang suka mencaci maki".[3]
Diriwayatkan dari Muhammad bin 'Ali al Baqir As beliau bersabda:
"Ucapkanlah kepada manusia sebaik-baiknya ucapan sebagaimana engkau mencintai apa yang diucapkan kepada kalian. Karena sesungguhnya Allah murka kepada para pencaci maki dan orang-orang yang melaknat serta mengutuk atas orang-orang yang beriman yang berbuat keji dan mencaci maki serta yang meminta-minta ".[4]
Pada hadist yang lainnya beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang afif yaitu orang yang menjaga kehormatannya dan murka kepada orang yang duduk dan peminta-minta". [5]
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya mencaci maki termasuk perbuatan keji yang ditimbulkan dari sekedar murka dan kemarahan dan juga ditimbulkan dari akibat bergaul dengan orang-orang yang buruk, fasiq dan orang-orang yang suka berleha-leha dan suka mengutuk, maka hal itu akan menjadi kebiasaan bagi teman-teman yang bergaul bersama mereka. Dan akibatnya ia akan menjadi pencerca dan pencaci maki tanpa adanya permusuhan dan permukaan. Barangkali engkau pernah menyaksikan orang-orang yang hatinya buruk dan orang-orang jalanan dimana mereka mengeluarkan kata-kata keji kepada sebagiannya yang lain khususnya kepada ibu-ibu mereka dan kepada keluarga mereka karena bergurau. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang berbuat seperti itu jauh dari sifat-sifat kemanusiaan.
________________________________________
[1]Safinatul Bihar, J.2, hal. 268, hadist ke 2.
[2]Kanzul Ummal, hadist ke 8078.
[3] Kanzul Ummal, hadist ke 8085.
[4]Biharul Anwar, J. 78, hal. 181.
[5] Biharul Anwar, J. 79, hal. 111.

Oleh : Syaikh Abbas Al-Qummy ; Penerjemah: Abu Qurba Amin

8.17.2010

Ramadhan : Memberikan Pelajaran Taqwa

Bulan Ramadhan memberikan satu pelajaran takwa - bahwa orang seharusnya mengendalikan kebutuhan-kebutuhan (keinginan)nya - keperluan-keperluan yang sangat penting bagi kelangsungan dan kelanjutan dirinya. Untuk kelangsungan dirinya sendiri, makan dan minum adalah keperluan-keperluan pokok sedangkan, untuk kelanjutan ras manusia, hubungan-hubungan dengan pasangan seseorang adalah perlu. Dalam puasa seseorang meninggalkan keduanya untuk beberapa waktu (yakni selama siang hari) hanya demi mencari keridhaan Tuhan.

Dengan cara ini, Allah telah mengajarkan kepada kita pelajaran bahwa ketika orang menjadi terbiasa meninggalkan keperluan-keperluannya yang pokok dan besar, betapa mudahnya hal itu baginya untuk meninggalkan keperluan-keperluan yang kecil. Bayangkan saja, bahwa ada susu segar, serbat dingin, anggur dan jeruk di rumah seseorang. Bibir kering dengan rasa haus dan tak ada seorang pun dapat mencegahnya dari menggunakannya tapi, walaupun perlu dan dapat terjangkau, dia tidak memakan atau meminumnya. Itu hanya karena [takut] Tuhannya tidak ridha kepadanya.

Sama halnya, bayangkan bahwa dia mempunyai makanan yang baik dan lezat, seperti pulao, kabab (sejenis sate) dan makanan-makanan lezat lain di dapurnya. Dia lapar dan tak ada seorang pun dapat menghentikannya dari memakannya. Dia tidak memakannya kecuali [karena takut] dia tidak taat pada perintah Allah Ta'ala.

Dengan demikian, ketika segala hal yang baik yang penting bagi kelangsungan hidupnya tersedia untuknya dan dia meninggalkannya hanya demi mencari keridhaan Tuhan, dan pengalaman-pengalaman yang dirasakan bahwa dia dapat berbuat demikian, maka mengapa dia akan menggunakan minuman keras dan makan babi, yang tidak penting sama sekali.

Begitu pula, ketika seseorang yang terbiasa menerima suap, memakan riba, mencuri atau meminjam tanpa berniat untuk mengembalikan, akan menjadi jujur dan taat pada perintah-perintah Tuhannya, mengapa dia akan berani untuk mengambil kekayaan yang tidak sah semacam itu lagi. Tak pernah, selamanya.

Sama halnya, jika dia mempunyai seorang istri yang muda dan cantik dan dia dapat menjauhinya selama tiga puluh hari demi keridhaan Allah, maka mengapa dia akan memandang wanita-wanita lain dengan pandangan (niat) buruk.

Oleh sebab itu, Ramadhan Syarif merupakan bulan yang memberikan pelajaran amal takwa, kebersihan (kesucian), takut kepada Tuhan, kesabaran, keteguhan hati, mengendalikan nafsu dan menaklukkan diri sendiri.
(Khutbah Jum'at tanggal 22 Januari 1901; Khutbati Nur, jilid I, hal. 59-60 - via Ahmadiyya Gazette Canada, January 1995, hal. 18).

3.26.2010

Tanya Jawab Pengetahuan Agama (Bag. 3)

Khatamal Mursalin Hadhrat Muhammad saw

Tanya :
Kapan dan dimanakah Nabi Muhammad saw dilahirkan?
Jawab :
12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan 24 April 571 Masehi di Zazirah Arab, kota Makkah Al-Mukarramah.

Tanya :
Tulislah nama kunniyat (nama yang diberikan berdasarkan nama anak dll) dan gelar beliau saw.
Jawab :
Kunniyat beliau : Abu Qaasim (ayah Qaasim), gelar : Amin dan Sadduk.

Tanya :
Sebutkan nama dari kakek, ayah, serta ibunda nabi Muhammad saw?
Jawab :
Kakek : Abdul Muthalib, Ayah : Abdullah, Ibu : aminan Bin Wahhab.

Tanya :
Kapan Ayah dan Ibu beliau wafat?
Jawab :
Ayahanda beliau wafat beberapa bulan sebelum kelahiran beliau, dan ibunda beliau wafat ketika beliau saw berumur 6 tahun.

Tanya :
Siapakah ibu susu beliau?
Jawab :
Hadhrat HalimahSa’diyyah.

Tanya :
Dalam usia berapakah nabi Muhammad saw menikah untuk yang pertama kali dan dengan siapa?
Jawab :
Dalam usia 25 tahun dengan Hadhrat Khadijah r.a (seorang janda usia 40 tahun).

Tanya :
Sebutkan nama-nama istri nabi Muhammad saw?
Jawab :
1. Khadijah Al Kubraa r.a
2. Saudah Binti Zam’an r.a
3. Aisyah Siddiqah r.a
4. Hafsah Binti Hadhrat Umar r.a
5. Zainab Binti Khuzaimah r.a
6. Umi Salamah Hind Binti Umayyah r.a
7. Jainab Binti Jahas r.a
8. Juariyah Binti Harits r.a
9. Sufiah Binti Hujjaj Bin Akhtab r.a
10. Umi Habibah Binti Abu Sofyan r.a
11. Umi Ibrahim Maria Qibtiah r.a
12. Maimunah Binti Harits r.a
Dalam satu waktu nabi Muhammad saw beristri 9 orang.
Pengecualian beristri lebih dari 4 hanya untuk beliau saw sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 51.

Tanya :
Dalam usia berapakah nabi Muhammad saw mendakwakan dan mengumumkan kenabiannya?
Jawab :
Dalam usia 40 tahun.

Tanya :
Dimanakah wahyu pertama turun kepada beliau saw?
Jawab :
Di gua Hira.

Tanya :
Siapakah yang pertama kali beriman kepada beliau saw dari pria, wanita, anak-anak, budak, raja-raja, Nasrani, orang Iran, dan orang Roma?
Jawab :
Yang pertama diantara pria : Hadhrat Abu Bakar r.a, wanita : Hadhrat Khadijah Al Kubraa r.a, anak-anak : Hadhrat Ali r.a, raja-raja : Usamah Najasyi r.a, orang-orang Nasrani : Waraqah bin Naufal, dan dari antara orang Romawi : Hadhrat Suhaib Rumi r.a.

2.09.2010

Tanya Jawab Pengetahuan Agama (Bag. 2)

Tanya :
Dalam al-quran ; surah apakah yang terpanjang, dan surah apakah yang terpendek?
Jawab :
Surah terpanjang adalah surah al-baqarah, dan surah terpendek adalah al-kautsar.

Tanya :
Ditilik dari segi nuzulnya (turunnya) ayat manakah yang pertama dan yang terakhir?
Jawab :
Dari segi nuzulnya, yang pertaman adalah surah al-‘alaq ayat 2
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
2. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,

Sedangkan ayat yang terakhir adalah surah al-baqarah ayat 282
وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ
282. Takutlah ketika kamu dikembalikan kehadapan Allah.

Tanya :
Di dalam urutan susunan surah-surah al-quran karim, perintah atau hukum apakah yang pertama dijumpai?
Jawab :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
22. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,


Tanya :
Berapa macam golongan manusia yang disebutkan dalam 17 ayat pertama surah al-baqarah? Sebutkan nama golongan mereka?
Jawab :
Di dalamnya disebutkan 3 golongan, yaitu : orang-orang muttaqi (mukmin), orang-orang kafir, dan orang-orang munafik.

Tanya :
Surah apakah di dalam al-quran yang tidak dimulai dengan bismillah, dan apakah sebabnya?
Jawab :
Surah itu adalah surah at-taubah, karena surah itu bagian dari surah al-anfal.

Tanya :
Surah manakah dalam al-quran yang mempunyai 2 bismillah?
Jawab :
Surah itu adalah surah an-nalm. Yang pertama terdapat pada permulaan surah, dan yang kedua terdapat pada ayat ke 31.

Tanya :
Tulislah 3 doa quraniyah (doa yang terdapat dalam al-quran)!
Jawab :
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
250. "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir."

رَّبِّ زِدْنِي عِلْماً
114. "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
201. "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[127].
[127] inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

Tanya :
Berapa kalikah Nabi Muhammad SAW disebutkan dalam al-quran? Sebutkan salah satu tempat yang mencantumkan nama beliau SAW?
Jawab :
Nama beliau tercantum 4 kali. Missal : “Artinya : Muhammad adalah rasul Allah, dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lembut diantara mereka sendiri.

Tanya :
Di dalan surah dan ayat manakah disebutkan bahwa rasulullah SAW adalah khataman nabiyiin dan rahmatul-lil-alamin?
Jawab :
Kedudukan beliau sebagai khataman nabiyiin terdapat pada surah al-ahzab ayat 41 :
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً
41. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu[1223]., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

[1223] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari salah seorang sahabat, karena itu janda Zaid dapat dikawini oleh Rasulullah s.a.w.

Tentang rahmatul-lil-alamin terdapat dalam surah al-anbiya ayat 108 :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
108. dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Penghitungan ayat al-quran, bismillah adalah ayat pertama

4 Lelaki Yang Ditarik Wanita ke Neraka

Pertama : Ayahnya
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak – anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberi segala keperluan agama seperti mengajar shalat, mengaji dan sebagainya, dia membiarkan anak – anak perempuannya tidak menutup aurat …seorang ayah tidak cukup kalau dengan hanya memberi kemewahan dunia saja maka ia akan ditarik oleh anaknya ke neraka.

Kedua : Suaminya
Apabila seorang suami tidak memperdulikan tindak tanduk istrinya, bergaul bebas di tempat kerja, berhias diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum laki – laki yang bukan mahram, apabila suami mendiamkan diri…walaupun dia seorang alim (shalat tidak tangguh, puasa tidak tinggal) maka ia akan ditarik oleh istrinya ke neraka.

Ketiga : abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggung jawab menjaga maruah wanita jatuh pada abang – abangnya …jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adik perempuannya dibiarkan melenceng dari ajaran islam …maka tunggulah tarikan adiknya di akhirat ke neraka.

Keempat : Anak lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasehati ibu perihal kelakuan yang haram dari islam, maka anak itu akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak… nantilah tarikan ibunya.

Betapa hebatnya tarikan wanita bukan saja di dunia bahkan di akhirat tarikannya begitu hebat, maka kaum lelaki yang bergelar ayah, suami, abang, lebih baik nya memainkan peranan yang sebenarnya.
Firman Allah SWT dalam surat Al – Maidah : 34 “Lelaki itu pemimpin wanita”
Hai wanita, kasihanilah ayah anda, suami anda, abang – abang anda, serta anak lelaki anda…kasihanilah diri kamu sendiri dengan menjalankan perintah Allah SWT.

2.07.2010

Tanya Jawab Pengetahuan Agama (Bag. 1)

Tanya :
Siapakah nama Dzat (diri) Allah SWT, dan apakan artinya?
Jawab :
Nama Dzat (diri) Allah yang artinya : Dia, adalah Dzat yang merupakan kumpulan (memiliki) segala kebaikan dan bersih dari segala kekurangan.

Tanya :
Berapakan nama sifat Allah SWT yang disebutkan dalam al-quran karim?
Jawab :
Sifat Allah SWT yang disebutkan dalam al-quran karim 103, missal : rabbul aalamin, ar-rahman, ar-rahim, al-hayyu, al-qayyum.

Tanya :
Sebutkan bukti adanya wujud Allah SWT, berdasarkan al-quran!
Jawab :
Kemenangan para Rasul. Allah SWT berfirman :
كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
22. Allah telah menetapkan: "Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang". Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.


Tanya :
Apa arti Islam?
Jawab :
Islam, artinya tunduk, menyerahkan diri, taat, dan kecintaan.

Tanya :
Apa Islam Itu?
Jawab :
Peleburan diri karena Tuhan, meninggalkan keinginan nafsu untuk memperoleh keridhaan Tuhan.

Tanya :
Sebutkan rukun Islam?
Jawab :
1. Kalimat Syahadat (kalimat thayyibah).
2. Shalat.
3. Puasa di bulan Ramadhan.
4. Membayar zakat.
5. Melaksanakan ibadah haji.

Tanya :
Berapakan rukun iman?
Jawab:
Rukun iman ada 6, ialah:
1. Percaya kepada Allah.
2. Percaya kepada malaikat-malaikat-Nya.
3. Percaya kepada kitab-kitab-Nya.
4. Percara kepada rasul-rasul-Nya.
5. Percaya kepada hari kiamat/akhirat.
6. Percaya kepada takdir baik dan buruk.

Tanya :
Berapakan jumlah surah, ayat, ruku, dan kata dalam al-quran?
Jawab :
Surah berjumlah 114
Ayat berjumlah 6.616
Ruku berjumlah 540
Kata berjumlah 77. 934
Catatan :
Jumlah ayat, dan kata terdapat perbedaan pendapat. Sebab sebagian orang menghitung bismillah sebagai ayat kesatu, dan sebagian tidak. Begitu pula sebagian menganggap beberapa kalimat merupakan satu ayat dan sebagian tidak. Tetapi semua berpendapat bahwa mulai BA (pada bismillah) sampai SIM pada An Naas adalah yang diturunkan kepada Hadhrat Muhammad SAW.

Tanya :
Ceritakanlah secara singkat pengumpulan dan penyusunan al-quran?
Jawab :
Nabi Muhammad sendirilah yang mengumpulkan al-quran berdasarkan petunjuk wahyu Illahi dan dengan petunjuk wahyu Illahi menuliskan urutan-urutan yang sekarang supaya terpelihara. Hadhrat Abu Bakar r.a di zaman kekhalifahan beliau r.a menyuruh Hadhrat Zaid bin Tsabit untuk menjilid al-quran yang telah tertulis agar terpelihara dalam bentuk kitab. Kemudian Hadhrat Utsman r.a pada zaman kekhalifahan beliau r.a memerintahkan untuk membuat salinan dari kitab Illahi ini yang kemudian dikirimkan satu persatu ke Negara Islam. Sehingga dengan demikian al-quran karim tersebar ke seluruh dunia. Dan yang kita miliki sekarang adalah al-quran dalam bentuk asli tersebut.

Tanya :
Bagaimanakah janji Allah SWT, berkenaan dengan pemeliharan al-quran?
Jawab :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
10. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya[793].

[793] ayat Ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

Tanya :
Sebutkan, dua surah pertama, dan dua surah terakhir?
Jawab :
Dua surah pertama adalah al-fatihah, dan al-baaqarah. Dua surah terkhir adalah al-falaq dan an-naas. Kedua surah terakhir disebut mu’awwadzatain, karena keduanya dimulai dengan qul a’udzu. Di dalam kedua surah ini diajarkan doa untuk berlindung dari fitnah-fitnah di akhir zaman.

Penghitungan ayat pertama (al-quran) dimulai bismillah

12.13.2009

Benarkah Kiamat Terjadi Tahun 2012 ?

Akhir-akhir ini penduduk dunia sedang dihebohkan dengan bakal terjadi Qiamat pada tahun 2012. Fenomena ini berkembang dipicu oleh beredarnya film 2012 bauatan Amerika yang mengambarkan begitu dasyat dan mengerikan dampak terjadinya Qiamat pada tahun 2012 nanti. Film tersebut tidak saja mengundang perhatian dan penasaran banyak kalangan, bahkan menimbulkan reaksi pro-kontra di lapisan masyarakat. Orang awam, intelektual dan tokoh agama pun terpaksa angkat bicara menyoal hari Qiyamat yang menjadi issu hangat di masyarakat.

Masalah ini menjadi sesuatu yang menarik karena orang melihatnya dari dua sudut pandang ilmu pengetahuan dan sudut pandang teologis. Para ilmuan dengan bantuan high technologi mampu menganalisa tatanan dunia alam semesta. Sehingga mereka dapat membuat prediksi dampak-dampak yang akan terjadi akibat perubahan pada struktur bumi di masa yang akan datang. Sedangkan para tokoh agama sendiri dengan berbekal keyakinan terhadap ajarannya yang diperoleh dari kitab-kitab dan para nabi mereka mempercayai bahwa Qiamat pasti akan terjadi. Hanya saja Tuhan yang tahu kapan waktunya hari Qiamat akan terjadi.

Jadi, sekarang benarkah tahun 2012 akan Qiamat? Kalau tidak terjadi di tahun 2012, kapan Qiamat itu akan terjadi? Untuk menjawab semua pertanyaan itu Hz. Masih Mau'ud as. menjelaskan sbb. :

"Menurut Alquran pun dapat dijelaskan bahwa mulai Adam as. sampai penghabisan umur dunia ini hanya 7000 tahun saja, begitu pula kitab-kitab yang dahulu pun menyetujui hal ini. Ayat Alquran 'Sesungguhnya satu hari di sisi Rabmu adalah sepeti seribu tahun, daripada apa yang kamu hitung."'(22:48) pun menyatakan ini dan semua nabi-nabi mengabarkan begitu juga.

Sebagaimana telah saya katakan menurut ilmu hitungan huruf, surah Walasri pun menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. lahir dalam ribuan yang ke lima sesuadah Adam as. maka menurut hisab tersebut, zaman yang kita alami sekarang adalah ribuan yang ke tujuh... Bukti-bukti yang begitu banyak serta keterangan-keterangan Alquran dan hadits yang menyatakan bahwa inilah akhir zaman, semua itu memastikan bahwa inilah ribuan yang akhir dan Masih Mau'ud harus datang dalam permulaan ribuan yang akhir ini.

Peranggapan yang menyatakan tiada yang dapat mengetahui tentang waktu Qiamat, bukanlah bermaksud tidak dapat mengetahui. Jikalau tidak dapat mengetahui sama sekali, kemudian tanda-tanda tentang Qiamat yang disebutkan dalam Alquran , Hadits pun tidak akan dapat diterima, karena dengan tanda-tanda itu didapat suatu pengetahuan tentang dekatnya Qiamat...

Syariat tidak menyatakan bahwa segala pengetahuan tentang Qiamat tersembunyi sama sekali, malah semua nabi-nabi pun telah menerangkan tanda-tanda tentang akhir zaman dan dalam Injil disebutkan pula. Jadi ajaran itu hanya bermaksud, bahwa tiada yang mengetahui tentang tepatnya kejadian saat itu. Allah Taala berkuasa untuk melebihkan beberapa abad sesudah masa seribu tahun yang sekarang ini, karena bilangan kecil lazimnya tidak dihitung. Sebagaimana dari hitungan orang hamil kadang-kadang dapat melebihi beberapa hari. Kebanyakan bayi lahir dalam hamil yang lamanya sembilan bulan dan sepuluh hari. tetapi dapat dikatakan tiada yang dapat mengetahui tentang tepat waktu kelahiran bayi itu. Begitu pula walaupun masih ada seribu tahun lagi untuk berakhirnya dunia ini, tetapi tiada yang dapat mengetahui tentang saat yang tepat apabila Qiamat itu akan terjadi. (Pidato Islam, JAI, 1988, h.12-13)

Semoga dengan menyimak penjelasan di atas, kita senantiasa intropeksi diri dan berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Taala.

11.01.2009

TIPS “PACARAN YANG ISLAMI”



  1. Jangan berduaan dengan pacar di tempat sepi, kecuali ditemani mahram dari sang wanita (jadi bertiga)

    “Janganlah seorang laki-laki berkholwat (berduaan) dengan seorang wanita kecuali bersama mahromnya…”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341, Lihat Mausu’ah Al Manahi Asy Syari’ah 2/102]

    “Tidaklah seorang lelaki bersepi-sepian (berduaan) dengan seorang perempuan melainkan setan yang ketiganya“ (HSR.Tirmidzi)


  2. Jangan pergi dengan pacar lebih dari sehari semalam kecuali si wanita ditemani mahramnya.

    “Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sehari semalam tidak bersama mahromnya.” [HR Bukhori: 1088, Muslim 1339]


  3. Jangan berjalan-jalan dengan pacar ke tempat yang jauh kecuali si wanita ditemani mahramnya.

    “…..jangan bepergian dengan wanita kecuali bersama mahromnya….”[HR Bukhori: 3006,523, Muslim 1341]


  4. Jangan bersentuhan dengan pacar, jangan berpelukan, jangan meraba, jangan mencium, bahkan berjabat tangan juga tidak boleh, apalagi yang lebih dari sekedar jabat tangan.

    ”Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283, lihat Ash Shohihah 1/447/226)

    Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah 2874, ahmad 6/357, dll]


  5. Jangan memandang aurat pacar, masing-masing harus memakai pakaian yang menutupi auratnya.

    “Katakanlah kepada orang-orang beriman laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya..” (Al Qur’an Surat An Nur ayat 30)

    “…zina kedua matanya adalah memandang….” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)


  6. Jangan membicarakan/melakukan hal-hal yang membuat terjerumus kedalam zina

    “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Al Qur’an Surat Al Isra 32)

    “Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba, kedua kaki berzina dan zinanya adalah melangkah, dan mulut berzina dan zinanya adalah mencium.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud)


  7. Jangan menunda-nunda menikah jika sudah saling merasa cocok

    “Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).

    “Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.) :scream:


9.11.2009

KHUTBAH IDUL FITRI



إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُواْ اللّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
قَالُواْ نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيداً لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
قَالَ اللّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَن يَكْفُرْ بَعْدُ مِنكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَاباً لاَّ أُعَذِّبُهُ أَحَداً مِّنَ الْعَالَمِينَ


Ingatlah ketika para hawari berkata : “ Hai Isa Ibnu Maryam adakah Tuhan engkau mampu menurunkan bagi kami hidangan dari langit ?” Berkata ia : “ Bertaqwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”Mereka berkata : “ Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya hati kami tenteram dan supaya kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan supaya kami dapat menjadi saksi terhadapnya.” Berkata Isa Ibnu Mariyam, Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu Hari Raya bagi kami, bagi orang-orang yang sebelum kami dan bagi orang-orang yang akan datang setelah kami, dan sebagai Tanda kebenaran dari Eengkau, dan berilah kami rizki dan Engkaulah sebaik-baik Pemberi rizki.”(Al Maidah 113-116)


Setiap insan menghendaki kebaikan dan kesenangan bagi dirinya dan menghendaki untuk mendapatkan keselesaan atau ketenteraman dirinya. Tidak ada seorang yang bodoh dan dungu sekalipun yang menghendaki kesusahan atau kesengsaraan bagi dirinya. Akan tetapi disebabkan kesilapan atau kejahilannya sendiri kadangkala seseorang menghendaki sesuatu kesenangan, namun sebaliknya apa yang dia kehendaki itu menjadi kesusahan dan kesengsaraan baginya.

Seorang insan menghendaki kesenangan dan ketenteraman bagi dirinya, namun yang dikehendakinya itu sebaliknya menjadi sebab kesusahan baginya. Dia mengarapkan nikmat dari padanya, namun akhirnya menjadi azab baginya. Dia menghendaki kemjuan bagi dirinya, namun akhirnya menjadi kemunduran baginya. Dan ia menghendaki sesuatu benda yang berguna baginya, namun sebaliknya benda itu menjadi bahan sengsara baginya. Diatas dunia ini nampak ribuan macam pemandangan peristiwa seperti itu.

Seseorang menghendaki sesuatu dengan harapan akan menggembirakannya, akan tetapi apabila yang diharapkannya itu telah dihasilkannya menjadi penyebab batinnya sangat tersiksa pula. Seseorang berdo’a untuk mendapatkan anak keturunan bahkan meminta pertolongan kepada orang lain untuk mendo’akannya sambil banyak memberi sedeqah kepada fakir miskin agar mendapatkan anak keturunan. Bahkan apapun yang bisa dia lakukan demi mendapatkan anak keturunan itu, ia lakukan dengan semangat. Namun setelah mendapatkan anak, tabi’at anak itu tidak sesuai dengan harapannya semula, anak itu sangat jahat menjadi penyebab jatuhnya martabat-nya disisi masyarakat, sebab prilaku anak itu sangat memalukan, sehingga orang tua-pun merasa malu untuk menyebut nama anak itu sebabgai anak-nya sendiri dihadapan orang ramai.

Jadi manusia banyak merayakan kegembiraan dan kesenangan dan menganggap sesuatu akan menggembirakan dan menyenangkannya. Akan tetapi sebaliknya benda kesayanggannya itu sendiri menjadi penyebab kehancuran baginya.

Tatkala lasykar orang-orang musyrik Mekah tiba dimedan tempur Badar, mereka mengira akan mudah menghancurkan pasukan orang-orang Islam sampai musnah sama-sekali, dan pada waktu itu Abu Jahhal pemimpin lasykar orang-orang musyrik itu sesumbar dengan mengatakan: “Kita akan merayakan Ied hari ini dan akan meneguk arak sepuas-puasnya.” Mereka telah memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah menumpas pasukan Islam!

Akan tetapi apa yang telah terjadi ? Abu Jahhal itulah yang telah terkapar dibunuh di medan perang dengan sangat hina oleh dua orang anak muda yang masih ingusan. (Orang-orang Kuffar Mekah menganggap orang-orang Madinah sangat hina dan biasa menyebut mereka sebagai sampah masyarakat !! ) Abu Jahhal sangat memelas menyaksikan keadaan dirinya sendiri sangat hina sekali. Menurut adat kebiasaan orang-orang Arab, apabila seorang pemimpin besar terbunuh dimedan perang batang lehernya harus terpotong panjang, supaya orang menghormatinya sebagai pemimpin besar telah terkorban. Namun Hazrat Abdullah Bin Mas’ud r.a. setelah melihatnya tengah meringis dan terkapar diatas tanah bertanya kepadanya, hai Abu Jahhal !! Bagaimana nasib kamu sekarang ? Dia jawab, saya tidak menyesal sedikitpun akan kematian-ku ini namun aku sangat hina sekali karena dua anak kecil Madinah yang hina telah membunuh aku. Hazrat Abdullah r.a. bertanya lagi, Sekarang apa keinginan terakhir kamu hai Abu Jahhal ? Dia jawab, Potonglah leherku lebih panjang sedikit supaya orang menganggap aku pemimpin besar telah terkorban dimedan perang ! Hazrat Abdullah r.a. berkata, keinginan kamu inipun tidak akan aku penuhi ! Maka beliau memotong leher Abu Jahhal itu dibawah dagunya sedikit saja.

Tengoklah ! Abu Jahhal itulah yang telah berkata sebelumnya : Kita akan merayakan Ied dan akan meminum arak sepuas hati. Namun hari itu telah menjadi hari nahas baginya sehingga keinginan terakhirnyapun tidak terpenuhi.

Manusia memakan makanan yang bagaimanapun halusnya dan mengira ia akan mendapat enerji dan kekuatan bagi tubuhnya, namun sebaliknya makanan itu juga boleh menjadi penyebab sakit disentry yang berbahaya baginya.

Manusia ramai-ramai pergi ketempat pesta perkawinan dan bergembira-ria disana, dan mereka meluahkan kegembiraan disana sampai melampaui batas. Disana mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang bercanggah (bertentangan) dengan hukum syari’at Islam. Akan tetapi anak perempuan yang dibawa kerumah dan dimeriahkan pesta perkawinhannya itu telah menjadi penyebab kerusuhan didalam keluarga mertuanya. Dan ia telah melakukan banyak perbuatan buruk yang memalukan dan mencemarkan nama baik keluarga itu.

Jadi kita menyaksikan kenyataan, kadangkala manusia menghendaki suatu kegembiraan dan kesenangan, namun sebaliknya bukan kegembiraan yang terjadi melainkan kesedihan dan kesengsaraan bathin telah terjadi. Mungkin saja manusia telah menukar kegembiraan dengan perbuatan yang menimbulkan kemarahan Tuhan, akibatnya kesidihan dan kesengsaraan bathin menimpa dirinya.

Ayat suci Alqur’an yang telah saya tilawatkan pada permulaan khutbah ini menjelaskan peristiwa semacam itu. Mula-mula para Hawari Hazrat Isa a.s. meminta kepada beliau untuk mendu’akan mereka agar sebuah hidangan turun dari langit dan harta kekayaan-pun turun kepada mereka agar mereka terbebas dari membayar chanda yang menyusahkan mereka. Mereka ingin membelanjakan harta mereka dengan bebas menurut kehendak hati mereka. Dan mereka ingin supaya beribadah dengan hati senang dan terbuka sebab mereka sudah tidak dikenakan wajib bayar chanda lagi jika Jema’at mereka sudah memperoleh banyak kemampuan. Hazrat Isa a.s. berkata : “ Janganlah mengharapkan harta demikian. Apa yang Tuhan kasih kepada-mu ambillah. Manusia dalam suatu waktu mengira sesuatu benda akan berguna bagi mereka lalu mereka memohonnya. Akan tetapi sesungguhnya apa yang diminta-nya itu merupakan bahan kehancuran bagi mereka. Mereka berkata, kami memohon kepada Tuhan dengan tujuan yang baik !

Hazrat Isa a.s. lalu memanjatkan do’a untuk mereka itu. Dan Allah swt berfirman kepada beliau : “ Akan Aku kabulkan permohonan mereka itu. Akan tetapi setelah diberi, manusia yang tidak besyukur dan tidak berterima kasih atas anugerah-Ku itu akan ditimpakan azab diatas mereka sedemikian rupa sehingga tidak pernah orang lain menerima azab seperti itu.

Manusia tidak bisa menanggung derita dari azab Tuhan sekecil apapun. Bagaimanapun kuatnya seorang manusia sekalipun dia seorang body builder apabila pening kepala sekalipun atau sakit perut sudah menimpanya ia tidak berdaya mempertahankan dirinya.
Ketika Edward Vll sudah sampai waktunya untuk dirayakan naik takhta dan akan diletakkan mahkota diatas kepalanya, dia sakit perut kerana terdapat bisul didalam lambungnya, sehingga sekalipun persiapan sudah diselesaikan dengan sangat rapih dan akan sangat meriah sekali perayaannya itu akan tetapi atas perintah Tuhan dia telah gagal dan pesta perayaan naik takhtanya diundurkan. Pendeknya apabila suatu ujian dari Tuhan sudah tiba masanya tidak ada yang bisa menentangnya sekalipun ia seorang raja yang sangat berkuasa. Jadi apabila manusia menghadapi banyak kegembiraan, sesungguhnya ia bukanlah kegembiraan yang sejati melainkan akhirnya menjadi sebuah musibat baginya.

Didalam ayat tersebut diatas Allah swt berfirman : “ Kami tentu akan memberinya pada kalian apa yang kalian minta itu, namun jangan-jangan kalian berbuat khianat didalamnya, maka Aku akan menurunkan azab yang dahsyat kepada kalian yang tidak pernah bangsa atau kaum lain menerimanya.

Siapakah yang bisa memperkirakan betapa dahsyatnya azab itu. Disatu tempat azab itu turun seperti langit pecah. Jika sebuah bintang jatuh diatas bumi atau matahari atau bulan jatuh diatas bumi ini maka tentu kehancuran akan menimpa bumi ini. Jika semua tata surya dan alam semesta sudah hancur berantakan maka tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan dunia pada waktu itu.

Sekarang tiba sa’atnya dunia menghadapi perang global. Kedahsyatan perang seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dizaman para sahabah Rasulullah saw perang hanya menggunakan panah dan tombak. Banyak sahabah yang luka-luka terkena panah atau tombak namun salat tidak pernah mereka tinggalkan. Pada zaman itu sekalipun orang-orang banyak yang mendapat luka-luka dimedan perang namun mereka masih mampu menjalankan tugas mereka. Sekarang perang menggunakan alat-alat senjata yang sangat berbahaya sekali. Ini adalah azab yang sangat dahsyat sekali. Berbagai macam peluru kendali yang bukan hanya menghancurkan manusia namun bisa memporak-porandakan dinding-dinding kubu atau bangunan-bangunan kokoh sekalipun. Berbagai jenis bom, pesawat-pesawat tempur yang sangat canggih dilengkapi dengan senjata-senjata nuklir yang sangat berbahaya yang nampak sekarang ini tidak pernah didapati didunia ini.
Didunia sekarang ini telah tersedia berbagai jenis persenjataan yang sangat canggih sehingga manusia tidak mungkin akan bisa selamat dari padanya. Dari dahulu sampai sekarang peperangan seperti itu tidak pernah terjadi.


Orang-orang Eropah sesumbar : “Kami telah membuat berbagai jenis perlengkapan perang, berbagai jenis bom, senjata-senjata automatic, kapal-kapal perang, kapal-kapal penghancur dan sebaginya.” Kita berkata : Memang betul demikian, apa yang kalian perbuat benar sekali sebab telah membuktikan sempurnanya nubuwatan Kitab Suci Alqur’an. Semua penemuan-penemuan yang canggih telah membuktikan kebenaran firman Tuhan didalam Kitab Suci Alqur’an. Sehingga surat-surat kabar di Eropah telah mengakui bahwa peperangan yang sangat membinasakan dan pertumpahan darah yang sangat dahsyat yang akan terjadi itu tidak pernah disaksikan manusia sebelumnya. Terbuktilah bahwa persenjataan yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri menjadi penyebab kehancuran sebagian dunia. Ingatlah bahwa kegembiraan sebagian manusia telah menjadi penyebab kehancuran yang berupa azab bagi dunia yang sangat mengerikan.

Hari ini juga Hari Ied. Orang-orang bergembira karena pada hari ini Ied sudah tiba. Orang-orang begembira-ria merayakan Ied pada hari ini. Alquran adalah sebuah Kitab Suci dan Rasulullah saw adalah seorang Nabi suci. Beliau telah menentukan sebuah Hari Ied. Dalam merayakan kegembiraan hari Ied seperti ini orang-orang menjadi lupa kepada kewajiban-kewajiban mereka dan melanggar hukum-hukum syari’at. Sembahyang yang biasa dikerjakan lima kali sehari sekarang Rasulullah saw telah menambah menjadi enam kali sembahyang didalam hari Ied ini. Jangan-jangan manusia dalam merayakan kegembiraan ini menjadi lupa kepada perintah sembahyang dan melanggar hukum-hukum syari’at sehingga menjadi mangsa turunnya azab. Banyak bangsa-bangsa didunia ini yang telah diberi nikmat oleh Allah swt dan memberi kegembiraan kepada mereka, namun mereka menjadi kufur karena tidak mensyukuri nikamt-nikmat Tuhan itu sehingga menjadi mangsa turunnya azab dari Allah swt.

Jadi, Ied ini memang sarana untuk bergembira-ria dan untuk bersenang-senang. Sebab Nabi Muhammad saw sendiri mengatakan bahwa Ied ini adalah hari bersenang-senang dan hari bergembira-ria. Tetapi mengapa beliau menjadikan hari Ied ini hari kegembiraan ? Jawabannya sungguh panjang ! Pendeknya hari Ied ini hari untuk bergembira-ria. Dikala merayakan kegembiraan ini manusia banyak lupa kepada kewajiban ibadah. Namun kita berkata : Didalam hari kegembiraan ini kewajiban kita semakin bertambah banyak. Salat yang biasanya lima kali sehari dikerjakan, pada hari ini menjadi enam kali, dan diharuskan untuk banyak-banyak membaca takbir, selawat dan do’a dan berzikir kepada Allah swt.

Hazrat Rasulullah saw, semoga beribu-ribu rahmat dan barkat serta salaam dan selawat turun kepada beliau, telah berlaku sangat hati-hati sekali dan telah menyelamatkan kita. Telah difirmankan didalam Kitab Suci Alqur’an bawa orang yang tidak bersykur kepada nikmat-nikmat-Ku akan Aku timpakan azab kepadanya. Rasulullah saw telah mengajar kita, apabila kalian mendapat suatu kegembiraan hendaklah kalian melakukan ibadah kepada Tuhan walaupun sedikit sebagai tanda syukur kepada-Nya. Hukum syari’at mengajar kita supaya melakukan ibadah kepada Tuhan pada setiap kesempatan kita mendapat kegembiraan. Misalnya, diwaktu seorang anak lahir, banyak manusia bernyanyi gembira dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran syari’at agama. Namun kepada orang mukmin diperintahkan apabila seorang anak lahir, perdengarkanlah nama Allah dan tiupkanlah suara اللهُ اَكْبَرْ kedalam telinga sang bayi itu, maksudnya apabila sudah dewasa ia harus beribadah kepada Tuhan dan apabila mendapat kegembiraan berlakulah dibawah hukum syari’at Tuhan. Apabila sudah tiba waktunya untuk menikah, dengarlah baik-baik khutbah nikah itu yang dimulai dengan membacakan .… اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُsetelah itu dibacakan ayat-ayat Qur’an اِتَّقُوا للهَ ... اِتَّقُوا للهَ artinya pernikahan kamu itu harus berasas taqwa kepada Allah. Dan diwaktu dia hendak menjumpai isterinya juga sebuah ibadah telah ditentukan yaitu dengan membaca do’a : اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشِّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَناَ Artinya : Wahai Tuhanku ! Jauhkanlah syaitan dari kami dan singkirkanlah syaitan itu dari apa yang Engkan anugerahkan (seorang anak) bagi kami.

Apabila sudah duduk siap mau makan pada waktu itu membaca Bismillah dan setelah selesai makan membaca Alhamdulillah. Dalam setiap gerak-gerik hendaklah selalu memuji Allah swt. Tidak ada suatu kegembiraan-pun yang luput dari pada perintah ibadah kepada Tuhan. Hazrat Rasulullah saw telah memberi contoh dan teladan yang sangat indah untuk semua gerakan dengan sebuah ibadah berupa do’a kepada Allah swt. Sebab jika manusia tidak melakukan ibadah ketika mendapat kegembiraan atau kebahagiaan maka ia akan termasuk orang yang mengingkari nikmat yang akibatnya mendapat azab dari Allah swt. Sebagaimana firman-Nya kepada kaum Bani Israil : فَاِنِّيْ اُعَذِّبُهُ عَذَابًأ لاَّ اُعَذِّبُهُ اَحَدًا مِّنَ اْلعَالَمِيْنَArtinya : Akan Aku timpakan azab kepadanya dengan azab yang tidak pernah seorang-pun diatas dunia ini yang menerima azab seperti itu.

Jadi, Nabi Karim saw kita telah membuka jalan yang sangat terbuka bagi kita semua, dengan mengajarkan berbagai jenis ibadah berupa do’a-do’a pada setiap kesempatan mendapat kegembiraan atau kenikmatan dari Allah swt. Beliau telah menetapkan peraturan bagi kita dan seolah-olah beliau telah memberi tahu jenis-jenis pengobatan bagi kita, apabila kita hendak melakukan sesutau amal perbuatan baik harus dimulai dengan membaca بِسْمِ اللهbismillah, menyebut nama Allah swt dan pada akhir pekerjaan yang telah selesai kita kerjakan membaca اَلْحَمْدُلِلَّهِ alhamdulillah. Terdapat firman didalam Alqur’an : وَاٰخِرُ دَعْوٰهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ Artinya : Dan seruan akhir mereka apabila telah mengerjakan sesuatu adalah : Segala puju bagi Allah seru sekalian Alam (Yunus : 11)

Hari ini adalah Hari Kegembiraan dan hari kesenangan. Mengapa ? Sebabnya Allah swt telah memberi kesempatan untuk banyak beribadah kepada-Nya. Hazrat Rasulullah saw telah menetapkan sebuah ibadah bagi kita diwaktu kita mendapat suatu kegembiraan. Hal ini merupakan kebaikan Allah swt Yang telah memberi kita semua kesempatan untuk beribadah kepada-Nya.

Subhanallah !! Betapa indahnya pekerjaan para Nabi Allah Itu !!

Hazrat Rasulullah saw bersabda : Apabila bulan Ramadhan sudah tiba, berpuasalah dan beribadahlah dan banyak bersedekahlah kepada fakir miskin. Apabila Ramdhan sudah usai bergembiralah kalian tanda bersyukur kepada Tuhan Yang telah memberi taufiq untuk berpuasa dan memberi kesempatan beribadah pada hari Ied atau hari kegembiraan tiba.

Bukan hanya pada hari Ied ini saja, melainkan pada setiap kesempatan Allah swt telah menetapkan suatu ibadah bagi kita. Sebab biasanya manusia menjadi buta diwaktu merayakan hari kegembiraan. Oleh sbab itu Dia berfirman : Diwaktu sedang bergembira biasakanlah kalian beribadah agar kalian terhindar dari bahaya akibat kesalahan atau kesilapan kalian, sehingga kalian banyak mendapat faedah dari padanya.

Semoga Allah swt menghiasi kita dengan pakaian taqwa dan semoga Dia memberi taufiq kepada kita semua untuk mengembangkan ajaran Islam hakiki ini seluas-luasnya dan memberi taufiq kepada kita untuk menyaksikan kemenangan-nya diseluruh dunia. Amin !!!
OLEH HAZRAT KHALIFATUL MASIH II r.a.
TANGGAL 24 AGUSTUS 1914 DI QADIAN - INDIA
Alih Bahasa dari Bahasa Urdu oleh Hasan Basri
Singapur 6 September 2009


4.16.2009

Kerajaan Rohani


قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


Allah SWT berfirman didalam surah Ali-Imran : 26
“ Katakanlah : Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau beri kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ada 2 jenis kerajaan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada manusia bila dilihat dari sisi duniawi dan agamawi. Sebagaimana didalam ayat lain Allah SWT berfirman:
“ Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, Wahai kaumku ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia menjadikan kamu Nabi-nabi dan Raja-raja.”

Merupakan suatu karunia besar dari Allah Ta’ala manakala Dia menjadikan raja dalam sebuah kerajaan di suatu negeri. Karena berkat adanya seorang raja atau pemimpin dalam sebuah kerajaan atau Negara, maka laju pertumbuhan ekonomi akan menjadi baik, keadilan dapat ditegakkan, terjaminnya keamanan sehingga masyarakat akan hidup dengan aman dan sejahtera, dengan syarat apabila sang pemimpin tersebut dapat menjalankan amanatnya dengan baik.
Demikian pula halnya dengan kerajaan rohani, Allah SWT senantiasa mengutus utusannya berupa para nabi untuk mengajak umatnya secara berjamaah menjadi hamba-hamaba yang ta’at kepada Allah SWT sekaligus memajukan rohani umatnya melaui agama yang dibawanya.

Kalau kita melihat sejarah agama-agama yang lalu Bani Israil merupakan bangsa yang telah diberikan karunia yang begitu besarnya oleh Allah SWT dengan diutusnya nabi-nabi kepada bangsa tersebut. Sebagaimana dalam Al-quran disebutkan:


وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami berkehendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi, dan menjadikan mereka pemimipin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami.”.(Al-Qashash 28 :6)

[1112] Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun runtuh, negeri-negeri Ini diwarisi oleh Bani Israil.
[1113] Fir'aun selalu khawatir bahwa kerajaannya akan dihancurkan oleh Bani Israil Karena itu dia membunuh anak-anak laki-laki yang lahir dalam kalangan Bani Israil. ayat Ini menyatakan bahwa akan terjadi apa yang dikhawatirkannya itu.

Sebagaimana diketahui bahwa Bani Israil sebelumnya adalah bangsa yang lemah yang selalu tertindas oleh Bangsa Fir’aun, itulah sebabnya Allah Swt dengan karunia-Nya menjadikan nabi-nabi dan raja-raja kepada bangsa tersebut secara turun temurun sehingga mereka menjadi bangsa yang kuat dan maju. Namun karunia ini tidak mereka syukuri bahkan sebaliknya mereka mengingkari setiap nabi-nabi yang diutus kepada mereka, sebagaimana firman Allah SWT:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُواْ يَعْتَدُونَ

Telah dilaknat orang-orang yang ingkar dari antara Bani Israil oleh Daud dan Isa ibnu Maryam. Hal itu disebabkan karena mereka durhaka dan melampaui batas.”(Al-Maidah 5:78)

Ditempat lain dikatakan:

"Kemudian Kami kirimkan rasul Kami secara berturut-turut, setiap kali datang seorang rasul kepada umatnya mereka mendustakannya (Al-Mukmin:45)
Bahkan sebagian mereka dustakan dan sebagian lagi hendak mereka bunuh."


Karena sikap mereka yang demikian itu akhirnya Allah SWT memberikan kesempatan terakhir kepada mereka dengan mengutus nabi Isa a.s yang dilahirkan tanpa seorang bapak. Ini merupakan suatu isyarat dari Allah SWT bahwa keturunan mereka sudah tidak pantas untuk melahirkan seorang nabi. Namun peringatan ini tidak mereka indahkan bahkan sebaliknya mereka mendustakan nabi Isa a.s dan berusah untuk membunuhnya di tiang salib.

Dalam kitab matius 26 : 57-58
“ Sesudah mereka menangkap Yesus mereka membawanya ke Kayafas Imam besar, disanalah telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan Tua-tua. Seluruh Mahkamah agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus supaya dia dapat dihukum mati.”
Kitab Lukas 23:5
“ Kemudian Yesus dihadapkan lagi ke Pilatus ketua pengadilan untuk disidang. Maka diputuskanlah bahwa Yesus harus disalibkan. Pilatus berkata “ Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukannya aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini. Jawab mereka “ Ia menghasut rakyat dengan ajarannya.”

Tetapi ketika Pilatus melihat bahwa segala usahanya sia-sia malah sudah mulai timbul kekacauan ia mengambil air dan membasuh tangannya dihadapan orang banyak dan berkata “ Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini, itu urusan kamu sendiri. Mereka berkata “ Biarlah darahnya ditanggungkan atas kami dan anak-anak kami.”

Artinya mereka telah mempertaruhkan takdir mereka dan anak-anak mereka demi menolak suatu kebenaran.
Allah berfirman :
“ Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

Akhirnya karunia kerajaan rohani yang selama ini diberikan Allah SWT kepada mereka dicabut dan dipindahkan kepada kaum yang lain yaitu kaum Bani Ismail dengan diutusnya Muhammad Rausulullah saw. Namun sebagaimana sunah para utusan Tuhan kedatangan mereka kepada suatu umat selalu mendapat penolakan dan penentangan dari kaumnya, demikian halnya Rasulullah saw, akan tetapi dengan segenap perjuangan beliau serta berkat pertolongan Allah SWT beliau mendapatkan kemenangan demi kemenangan hingga kota Mekah pun dapat beliau taklukkan.

Namun kemengan yang diraih dari hasil peperangan sedikit banyak menimbulkan dampak negatif baik terhadap Rasulullah saw maupun terhadap agama islam pada umumnya. Hal ini dapat kita lihat dalam suatu peristiwa seorang wanita Yahudi yang mencoba meracuni Rasulullah saw dengan memberikan daging anak domba kegemaran Rasulullah saw yang telah dibubuhi racun, namun berkat pertolongan Allah SWT beliau terselamatkan akan tetapi seorang sahabat beliau yang bernama Bisyr sempat memakan sekarat yang tidak lama kemudian jatuh sakit dan dalam beberapa riwayat beliau meninggal seketika. Ketika hal ini ditanyakan oleh Rasulullah saw kepada wanita Yahudi itu ia berkata “ Kaumku telah berperang kepada Anda dan keluargaku gugur dalam pertempuran itu. Aku mengambil keputusan meracuni Anda dengan kepercayaan bahwa Jika Anda seorang tukan tipu anda akan mati dan kami akan aman dan damai, tetapi jika Anda benar seorang nabi, Tuhan akan memelihara Anda.” (HR.Muslim)

Kemenangan yang diperoleh diujung sebilah pedang tidak ada artinya sama sekali karena akan menghilang kembali dengan menurunnya kekuasaan si pemegang pedang. Kemenangan haqiqi hanya bisa diperoleh melalui penyampaian barisan wawasan dan kebenaran abadi. Kemenangan seperti inilah yang sedang diperjuangkan Islam. Nubuatan tersebut berkaitan dengan masa sekarang dan sekaranglah waktunya bagi Al-Quran untuk membuka semua pengertian-pengertian yang selama ini tersembunyi.

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda,

LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE